Arka masih berusaha mengatur napasnya yang menderu di depan bibir Lia, sisa dari ciuman menuntut yang baru saja ia berikan setelah mengusir para manajernya keluar. Ia mencengkeram pinggang Lia dengan posesif, merasakan kain gaun merah marun itu begitu tipis di bawah telapak tangannya. Matanya menggelap, menatap Lia yang kini sedang menyeringai nakal di atas meja kerjanya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Lia duduk, cara wanita itu membuka sedikit kedua kakinya yang terbalut kain sutra tersebut. Sebuah keberanian yang melampaui batas kewajaran seorang CEO di tengah jam kantor."Kamu benar-benar ingin merusak seluruh jadwal kerjaku hari ini, hm?" gumam Arka, suaranya serak dan berat. Ia meraba paha Lia, bermaksud untuk menarik wanita itu lebih dekat ke tepi meja, namun gerakan tangannya terhenti seketika. Matanya membelalak, pupilnya melebar saat jemarinya yang merambat naik di balik kain gaun itu tidak menemukan hambatan apa pun. Tidak ada karet renda, tidak ada kain satin, tidak a
Read more