Layar monitor raksasa di ruang pemantauan pribadi Arka Dirgantara perlahan meredup setelah lift yang membawa Lia Sanjaya tertutup rapat. Keheningan kembali merajai ruangan kedap suara itu, menyisakan gema kata-kata tajam Lia yang masih terngiang di telinga Arka. Arka menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium, memutar sebuah pena emas di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh dengan perhitungan. Senyum tipis yang jarang terlihat kini menghiasi wajahnya yang biasanya kaku. Ada binar yang tidak biasa di matanya, sebuah kombinasi antara rasa bangga, keterkejutan, dan gairah yang tumbuh dari rasa hormat yang baru terhadap wanita yang kini menjadi belahan jiwanya.Arka meraih remot kontrol di atas meja, memutar kembali rekaman pidato Lia beberapa menit yang lalu. Ia memperhatikan setiap detail kecil; bagaimana Lia berdiri dengan bahu yang tegak sempurna, bagaimana ia tidak berkedip sedikit pun saat menatap langsung ke mata para pengkhianat itu, dan yang pal
Read more