Damar masih memegang foto-foto itu dengan tangan yang kaku. Tatapannya ke arah Serina yang berdiri gemetar di depannya. Bubur ayam yang tadi ia beli dengan susah payah kini teronggok tak tersentuh di atas meja, uap panasnya perlahan menghilang, sama seperti kehangatan di antara mereka. "Jadi, sementara aku di luar sana berusaha melindungimu dari gangguan Mama, kamu justru menerimanya di sini? Di apartemenku, Serina?" suara Damar rendah, namun setiap katanya terasa seperti tusukan es. "Mas, aku hanya tidak ingin menambah bebanmu," lirih Serina, air matanya mulai mengalir di pipi. "Aku tahu kamu sedang pusing dengan masalah perusahaan dan Bapak. Aku pikir aku bisa menanganinya sendiri.” Damar tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat terluka. "Menanganinya sendiri? Dengan cara berbohong padaku? Kamu membiarkan wanita itu masuk, membiarkan dia mengancammu, dan kamu memilih untuk menutup mulut?" Damar membanting foto-foto itu ke meja hingga mangkuk bubur sedikit bergeser. "Apa
Terakhir Diperbarui : 2026-01-14 Baca selengkapnya