LOGINHidup Serina Veronika seorang mahasiswi yang semula tenang, mulai terganggu dengan kedatangan tetangga baru tepat disamping rumahnya. Tetanggga barunya yang merupakan seorang pria bernama Damar itu langsung terlibat insiden tidak mengenakkan dengannya sewaktu di bus. Serina menuduh Damar sebagai pria mesum yang melecehkannya di transportasi umum. “Dasar pria mesum! Beraninya kamu melecehkan saya di tempat umum seperti ini?” Dengan suara lantang, Serina meneriaki Damar sebagai pria mesum di depan semua orang. Meskipun, Damar mencoba mengelak tuduhan itu, namun Serina masih bersikukuh jika Damar lah yang melecehkannya. "Bukan saya pelakunya." Tanpa Serina tahu, ternyata tetangga mesumnya itu adalah dosen baru di kampusnya. Serina tak percaya dengan semua ini, hingga membuatnya mati kutu di hadapan Damar. Mulai hari itu, mereka terlibat banyak hal bersama. Damar sosok misterius yang menyimpan banyak rahasia nyatanya mampu menarik perhatian dari Serina. Damar banyak sekali membantu masalah keluarga Serina hingga membuat Serina merasa berhutang budi kepada Damar. Namun, tanpa Serina tahu, kebaikan yang Damar tunjukkan selama ini nyatanya menyimpan sejuta tujuan yang membuat Serina terperangkap ke dalamnya. “Kamu harus menanggung dosa yang telah dia lakukan. Aku datang kesini untuk membalas semuanya, Serina.” Rahasia besar apa yang sebenarnya Damar sembunyikan dari Serina?
View More“Dasar pria mesum! Berani sekali kamu melecehkan saya!”
Plak Satu tamparan keras, Serina layangkan ke wajah seorang pria tampan yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Wanita cantik berusia 20 tahun itu, sudah tidak bisa menahan dirinya lagi ketika ia mendapatkan pelecehan di bus yang ia tumpangi sekarang. Kondisi bus yang sangat ramai membuat Serina harus berdiri karena tak mendapatkan kursi kosong. Ia juga harus rela berdesakan dengan penumpang lainnya yang juga tak mendapatkan duduk. Tubuh antar penumpang yang saling berdempetan membuat tangan-tangan jahil mulai beraksi untuk mengincar mangsa. Dan sialnya, kini Serina yang harus mengalami itu. Awalnya, Serina merasakan remasan di pantatnya. Tapi, Serina biarkan saja. Ia pikir itu hal yang tidak disengaja, apalagi tubuh mereka saling menempel satu sama lain karena penumpang yang membludak. Tapi, ketika Serina mendapatkan remasan yang kedua di susul dengan paha nya yang di raba secara seduktif, itu membuat Serina yakin jika ini bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. Dan karena itulah, Serina langsung menampar pria tampan yang berdiri tepat di belakangnya yang ia yakini sebagai pelakunya. “Apa maksud, Mbak? Saya tidak melakukan apapun.” elak pria berwajah tampan itu sembari memegang pipinya yang terasa panas. Serina memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Pria di depannya ini sangat tampan. Wajahnya blasteran dengan tubuh yang tinggi tegap. Bahkan dari penampilannya saja, pria ini terlihat sangat berkelas. Meskipun hanya menggunakan kemeja hitam dan celana bahan. “Kamu sudah melecehkan saya!” Serina menunjuk wajah pria itu tanpa ragu. Pria bernama Damar itu mencoba untuk meredam situasi yang terlanjur memanas. Apalagi, ia sudah mendengar cemoohan dari penumpang lainnya. “Kamu salah paham. Saya tidak melakukan apapun padamu. Saya...“ “Huhhh, mana ada penjahat ngaku. Laporkan ke polisi saja , Mbak. Orang cabul kayak gitu harus di kasih hukuman.” seru pria paruh baya yang merupakan pelaku sebenarnya. Pria yang sudah beruban itu sedikit bisa bernapas lega karena Serina tak sadar jika dia lah pelaku sebenarnya dan bukan Damar. Dan tentunya, ia harus membuat Serina semakin yakin jika memang Damar lah pelakunya. “Saya lihat sendiri, tadi tangan mas nya remas-remas pantat Mbak. Dia juga meraba yang lainnya. Memang keterlaluan sekali. Dasar mesum!” hardik pria tua itu. “Ini salah paham. Kalian tidak memiliki bukti untuk menuduh saya seperti ini.” Tangan Serina mengepal kuat. Kesabarannya sudah habis, kini ia harus memberikan pelajaran yang setimpal untuk pria mesum ini. “Berhenti Pak!” Teriakan Serina membuat sopir bus menepikan busnya. “Ikut saya!” Dengan kasar, Serina menarik tangan Damar. Semua orang menepi dan memberikan jalan untuk Serina dan Damar. Damar sendiri pun tak mencoba menolak. Ia pikir masalah ini memang harus di selesaikan berdua. “Saya akan laporkan kamu ke polisi!” ancam Serina ketika mereka sudah turun dari bus. Detik itu juga, Damar merampas ponsel milik Serina, “Kamu tidak perlu melakukan itu. Begini saja, saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu. Jadi, kita selesaikan masalah ini dengan cepat.” Damar mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan menyelipkannya di telapak tangan Serina. “Saya ulangi sekali lagi, saya tidak pernah melecehkan mu. Saya bukan pria mesum seperti yang kamu tuduhkan. Jika memang kamu merasa di rugikan, maka ambil ini.” Serina menatap tak percaya lembaran uang yang sudah berada di telapak tangannya, “Kamu pikir, kamu bisa membeli harga diri saya dengan uang?” Serina lemparkan uang itu ke wajah Damar. “Ambil saja uangmu kembali!” "Ikut saya ke kantor polisi!" Serina menarik paksa kemeja hitam yang dikenakan Damar. Serina tak peduli jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang. "Lepaskan saya!" "Tidak! Kamu harus..." Ucapan Serina menggantung ketika melihat kemeja Damar sobek karena tarikannya yang begitu kuat. Serina spontan melepaskan tangannya saat melihat perut sixpack milik Damar terpampang nyata di depan matanya. Damar menggeram kesal, "Kamu juga melecehkan saya. Kalau begitu, mari datang ke kantor polisi sama-sama. Dengan begitu saya bisa laporkan kamu atas tindakan pelecehan di tempat umum." Serina tergagap. Sungguh, ia tak bermaksud merobek kemeja Damar. "Saya..." "Kamu takut?" "Saya tidak sengaja." "Memalukan sekali." cibir Damar. Namun tanpa Serina duga, Damar memberhentikan sebuah taxi. "Kita anggap semua ini impas, meski saya tidak pernah melecehkan mu." pungkas Damar yang akhirnya masuk ke dalam taxi itu. “Hei! Mau kemana kamu? Jangan kabur!” teriak Serina frustasi. Selama hidupnya, Serina tak pernah mengalami pelecehan seperti ini. Padahal, Serina hampir setiap hari pulang dan pergi ke kampus naik bus. Dan tentu saja, itu membuat Serina sangat geram. Alhasil, karena insiden di bus tadi, akhirnya Serina harus rela terlambat masuk kelas. Ini sudah kelewat lima belas menit dari jam masuk kelasnya. Serina berlari sekuat tenaga hingga akhirnya ia sampai di depan kelasnya. Serina mencoba mengatur nafasnya yang berat dan juga mengelap keringat yang bercucuran. Tenaga Serina benar-benar terkuras habis karena harus naik tangga dari lantai satu ke lantai tiga. Dengan satu tarikan napas panjang, akhirnya Serina mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dan barulah ia membukanya. Saat kakinya melangkah masuk, suasana kelas masih terlihat santai dan belum ada dosen di dalam.Sepertinya, keberuntungan masih berpihak pada Serina. “Serina!” Panggilan itu membuat Serina menoleh. Dari sudut ruangan, nampak seorang wanita berkacamata yang melambaikan tangan ke arahnya. Ya, wanita itu adalah Ajeng yang tak lain adalah sahabat dekatnya. Dengan langkah gontai, Serina menghampiri Ajeng. “Dosennya belum datang?” “Tadi sudah masuk, tapi dosennya keluar lagi. Sepertinya ada urusan mendadak.” Serina akhirnya bisa bernapas lega. Ia tumpukan kepalanya pada meja. “Kamu tahu tidak, dosen baru kita itu sangat tampan sekali. Ternyata, desas-desus yang selama ini beredar benar adanya.” Serina tak terlalu menanggapi. Ia terlalu lelah untuk mengobrol sekarang. “Wajahnya kayak aktor Hollywood. Tubuhnya tinggi, badannya atletis sekali. Terus wajahnya tegas, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya seksi. Haduh, aku pasti tidak akan pernah bolos di kelas ini.” “Dasar... Kalau ada yang ganteng aja langsung melek.” cibir Serina. “Ih, beneran tahu. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia adalah pemilik PT Emerson Farma.” “Benarkah?” Serina langsung mengangkat kepalanya. Topik ini langsung membangkitkan semangat Serina kembali, “Bagus dong. Itu artinya pengalamannya sangat banyak. Dan kita beruntung mendapatkan dosen baru seperti itu." Tak hanya Ajeng yang membicarakan dosen baru itu, namun yang lainnya pun tak kalah hebohnya menggosipkan dosen baru itu. “Pak Damar datang!” seru salah satu dari mereka. Tak lama kemudian pintu kelas terbuka. Suara gaduh di dalam kelas mendadak berhenti. Semua orang memposisikan dirinya dengan rapi untuk menyambut kedatangan dosen baru mereka. “Maaf, jika saya lama.” Suara bariton itu menyeruak dibarengi dengan kemunculan sosok dosen baru yang tak lain adalah Damar Renanda Emerson. Serina melongo dengan mata yang membulat sempurna, “Pria itu...”Serina akhirnya duduk bersama dengan Vero di taman kampus. Disana cukup sepi dan tentunya ini sangat cocok untuk mengobrol bersama. Apalagi, banyak hal yang harus Vero tanyakan kepada Serina. Serina masih enggan untuk membuka suara. Jujur saja, ia masih teringat ucapan dari Ajeng yang mengatakan jika Vero menyukai dirinya. Namun, Serina tentunya tak mau percaya begitu saja sebelum mendengarnya langsung dari mulut Vero. “Aku tidak menyangka sekali, jika kamu ternyata sudah menikah dengan Pak Damar.”Vero akhirnya bersuara untuk memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Vero tentunya sangat kecewa sekali mendengar berita yang masih menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa kampus.“Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini.”“Sejak kapan?” tanya Vero kemudian.Serina tak langsung menjawab. “Apa saat kita akan pergi ke pameran kamu sudah menikah dengan Pak Damar?”Serina anggukkan kepalanya dengan terpaksa sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Vero
Serina cukup terhibur dengan datangnya Ajeng ke rumah. Setidaknya, Ajeng bisa mengobati perasaannya yang tegah berkecamuk sekarang. Bahkan, asinan yang dibawakan oleh Ajeng sudah habis setengah. Sungguh, Serina sangat suka dengan asinan ini karena rasanya yang sangat menyegarkan. Bahkan, Serina sama sekali tak merasa mual dan muntah. Namun, yang membuat Serina kembali bersedih adalah Damar yang tak kunjung keluar dari kamar sejak mereka pulang tadi. Bahkan, ini sudah malah tapi Damar masih belum menunjukkan batang hidungnya lagi. Sampai-sampai Serina makan malam sendirian di meja makan. Rasanya sangat hampa sekali karena tak ada teman yang bisa Serina ajak mengobrol. “Bagaimana caraku minta maaf? Dia terus menghindariku seperti ini.”Serina rapikan alat makannya dan mencucinya sendiri di dapur. Serina terus memikirkan cara bagaimana ia bisa berinteraksi dengan Damar. “Apa aku bawakan saja makanannya ke kamar? Dengan begitu, aku bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.”S
“A-apa?” Leticia sampai tergagap mendengar ucapan Damar. Leticia seketika menatap Serina yang masih terduduk di tempatnya tadi. “Jangan bercanda, Damar. Wanita kampungan seperti ini jelas bukan tipe kamu.”Serina memilih memalingkan wajahnya. Saat mengobrol dengan Leticia tadi pun, Serina memang tidak memperkenalkan dirinya sebagai istri dari Damar. Serina memilih diam dan tak pernah menunjukkan identitasnya. Sedangkan, Leticia terus memamerkan kedekatannya dengan Damar dulu. Dan kedatangan Leticia kesini khusus untuk menemui Damar dan ingin menjalin hubungan lagi dengan Damar yang sekarang berstatus menjadi suami Serina. “Dia memang istriku. Kami sudah menikah.” Damar menunjukkan cincin yang ia kenakan di jari manisnya. Leticia mengusap wajahnya kasar. Leticia seolah masih tak percaya dengan semua ini. “Kenapa Damar? Kenapa kamu tidak pernah memberiku kesempatan ha? Apa kurangnya aku? Bahkan jika dibandingkan dengan istrimu yang sekarang, aku jauh diatasnya. Tapi, kamu malah men
Serina akhirnya keluar dengan perasaan yang hancur. Serina remas bungkusan palstik yang ia bawa. Sikap kasar Beni membuat hatinya hancur. Beni seperti orang lain, padahal Serina datang kesini dengan niat baik. Lalu, Serina harus apa? Apakah ia mampu meminta Damar untuk membebaskan Beni? Rasanya Serina tak memiliki keberanian itu. Dengan satu tarikan napas panjang, Serina menghapus air matanya dengan cepat. Serina memaksakan senyumnya ketika ia berjalan mendekati Damar yang masih menunggunya di dekat mobil. Serina tak boleh menunjukkan kesedihannya kepada Damar. Dan tentu saja, Damar tak boleh tahu tentang ini. Serina takut, jika Damar akan semakin keras kepada Beni nanti. “Mas...” panggil Serina. Damar yang tengah menyender di mobil dan fokus pada ponselnya pun seketika mendongak. “Sudah selesai?” Serina anggukkan kepalanya. “Sudah.” Damar menyimpan ponselnya dan kini matanya malah terfokus pada tentengan kresek di tangan Serina. “Kenapa di bawa kembali?” Serina tak langsu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews