Pagi itu, langit tampak mendung tipis, seolah ikut merasakan beratnya langkah yang harus diambil oleh Damar dan Serina. Damar mengenakan setelan hitam yang rapi namun wajahnya terlihat tegang, sementara Serina mengenakan pakaian sederhana yang sopan. Meski tubuhnya belum pulih seratus persen, sorot matanya menunjukkan keberanian yang luar biasa. Begitu mobil berhenti di depan kantor polisi, kerumunan wartawan yang mencium berita panas ini langsung menyerbu. Namun, dengan sigap Damar merangkul bahu Serina, melindunginya dari jepretan kamera dan desakan orang-orang. "Jangan takut, aku ada di sini," bisik Damar tepat di telinga Serina saat mereka melangkah masuk ke dalam gedung. Di dalam, aroma kantor polisi yang khas, campuran kertas tua dan kopi—m menyambut mereka. Bram sudah menunggu di sana bersama seorang penyidik senior. "Tuan Damar, Nona Serina, silakan masuk ke ruang pemeriksaan," ujar penyidik itu dengan sopan. Namun, sebelum mencapai ruang pemeriksaan, mereka harus melewat
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya