Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat karena hati mereka telah menyatu. Sepanjang jalan, tangan mereka tidak pernah terlepas, saling bertautan di atas tuas transmisi seolah ada magnet yang enggan memisahkan.Begitu pintu apartemen terbuka dan lampu otomatis menyala remang-remang, suasana mendadak berubah menjadi sangat elektrik. Damar tidak langsung melepaskan jasnya. Ia justru menutup pintu, menguncinya, dan langsung menyandarkan Serina ke daun pintu yang kokoh.Serina tersentak kecil, napasnya tertahan saat melihat tatapan Damar yang begitu intens dan dalam, tatapan yang sama seperti di restoran tadi, namun kali ini jauh lebih menuntut."Mas..." bisik Serina, suaranya sedikit bergetar.Damar meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Serina, mengurung wanita itu dalam dunianya. "Tadi di restoran, kamu bilang tidak akan meragukan tempatmu lagi di hatiku, kan?"Serina mengangguk pelan, jari-jarinya meremas ujung kemeja Damar. "Iya, Mas.""Dan kamu juga bilang, kamu tidak akan men
Terakhir Diperbarui : 2026-01-25 Baca selengkapnya