Masih sangat pagi ketika Jefri tiba-tiba mengajak mereka bertemu.Hani duduk tegang di atas sofa. Pandangannya sedikit tertunduk, menatap tangannya yang meremas celana. Tidak sanggup bertatapan dengan Jefri yang begitu mengintimidasi di depannya.Di sampingnya, Merphilus juga duduk tegak. Ia terlihat tenang dan berwibawa. Bahkan, bisa membalas tatapan Jefri, berbeda dengan Hani. Tapi, jika diperhatikan lebih jelas, sorot matanya terlihat was-was. Sepertinya ia sama tegangnya dengan Hani dan ikut bertanya-tanya hal yang ingin disampaikan Jefri sekarang. Atmosfir di ruangan itu sangat berat. Leo yang juga datang untuk menemani sang bos bahkan bisa merasakan tekanan itu. Ia merasa gerah, padahal AC masih menyala di kamar itu.Pria itu menelan ludah pelan.“Kalian sudah tahu alasan kita berkumpul sekarang, kan?” Jefri akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar berat dan dominan. Membuat Hani meremas celananya semakin erat.“Iya, Tuan. Kami tahu,” yang membalas adalah Merphilus. Sepertiny
อ่านเพิ่มเติม