LOGINBeberapa hari berlalu setelah pengajuan syarat dari Jefri. Hingga tak terasa, tibalah hari wisuda kuliah Rara dan Hani dilaksanakan.
…. Atau begitulah bagi sebagian orang. Karena bagi Hani, waktu sebulan itu berlalu sangat lama.
Hani menghela napas. Seperti biasa menatap kalender di ponselnya dengan nelangsa. Di sisinya, hai
Tidak ada kejadian apa pun setelah itu.Hani akhirnya tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri diam di tempatnya. Begitu juga dengan sosok itu. Setelah Hani memberikan senyum padanya, sosok itu beranjak pergi.Ia tidak menoleh. Tidak berubah pikiran untuk mendekati Hani. Tetap pergi di bawah tatapan sang perempuan yang bergetar menahan diri untuk tetap diam.Hari itu berlalu seperti biasanya.Setelah kejadian itu, Hani kemudian disibukkan dengan agenda selanjutnya. Persiapan acara penyerahan suksesi oleh ayahnya.Persiapan itu memakan waktu dan pikiran. Hani bahkan lebih sibuk dari saat mengurus proyek bersama Merphilus.
Beberapa hari berlalu setelah pengajuan syarat dari Jefri. Hingga tak terasa, tibalah hari wisuda kuliah Rara dan Hani dilaksanakan.…. Atau begitulah bagi sebagian orang. Karena bagi Hani, waktu sebulan itu berlalu sangat lama.Hani menghela napas. Seperti biasa menatap kalender di ponselnya dengan nelangsa. Di sisinya, hairstylist dan penata rias sibuk mengurus Hani. Mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk tampil di wisuda.Merphilus ternyata menepati syarat Jefri dengan baik. Ia tidak menemui Hani, tidak mengajaknya untuk bertemu secara diam-diam, bahkan pria itu sama sekali tidak menghubunginya!Hani sebenarnya tidak menyangka ini. Mengenal Merphilus sebagai orang licik, ia berpikir p
“Bagaimana, Hani?”“Sa-saya mengerti,” Hani menelan ludah. Mengalihkan pandangannya malu.“Saya mengerti. Saya akan melakukannya. Janji.”Merphilus terkekeh pelan. Merasa gemas juga berseri mendengar balasan perempuannya itu. Ia kemudian menggamit dagu Hani lalu mengangkatnya, membuat Hani terpaksa menoleh padanya lagi.“Gadis pintar,” bisiknya membuat Hani kembali memerah padam.Perlahan, Merphilus mendekatkan lagi wajahnya. Semuanya terasa lambat dan buram sekarang di mata Hani. Ia hanya bisa terpaku pada wajah dan tatapan mendamba pria di hadapannya ini.Jarak keduanya semakin kecil. Napas keduanya mulai memburu dan tatapan Hani mulai menurun, hampir terpejam.Tinggal sedikit lagi sampai bibir mereka bertemu—TOK. TOK. TOK.“Tuan Merphilus, waktu Anda sudah habis.”Hani tersentak. Tubuhnya berubah kaku. Sementara Merphilus ikut tidak bergerak. Wajahnya mengeras.Tapi, saat Leo kembali mengetuk pintu, ia menghela napas panjang. “Sepertinya kita harus berhenti di sini,” ucap pria itu
Hani terbelalak. Napasnya tercekat. Ia mencerna sejenak kalimat yang disampaikan ayahnya sebelum ekspresi wajahnya berubah mengeras.“Tidak boleh menemuiku? Apa-apaan itu?” Hani bersungut kesal, “Itu sama sekali tidak adil! Ayah pasti sengaja untuk menyusahkannya, kan?”“Kalau kalian tidak setuju, ya tidak apa-apa. Kalian tidak perlu melakukannya,” Jefri mengangkat kedua bahunya ringan. Tidak tergubris dengan amarah putrinya.“Tapi, kalau begitu, kalian tidak bisa bersama lagi. Hubungan kalian berakhir di sini.”Napas Hani kembali tercekat melihat tatapan dingin Jefri. Sorot wajah itu bertambah gelap, tidak menunjukkan ampun sedikit pun. Tangan Hani yang me
Masih sangat pagi ketika Jefri tiba-tiba mengajak mereka bertemu.Hani duduk tegang di atas sofa. Pandangannya sedikit tertunduk, menatap tangannya yang meremas celana. Tidak sanggup bertatapan dengan Jefri yang begitu mengintimidasi di depannya.Di sampingnya, Merphilus juga duduk tegak. Ia terlihat tenang dan berwibawa. Bahkan, bisa membalas tatapan Jefri, berbeda dengan Hani. Tapi, jika diperhatikan lebih jelas, sorot matanya terlihat was-was. Sepertinya ia sama tegangnya dengan Hani dan ikut bertanya-tanya hal yang ingin disampaikan Jefri sekarang. Atmosfir di ruangan itu sangat berat. Leo yang juga datang untuk menemani sang bos bahkan bisa merasakan tekanan itu. Ia merasa gerah, padahal AC masih menyala di kamar itu.Pria itu menelan ludah pelan.“Kalian sudah tahu alasan kita berkumpul sekarang, kan?” Jefri akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar berat dan dominan. Membuat Hani meremas celananya semakin erat.“Iya, Tuan. Kami tahu,” yang membalas adalah Merphilus. Sepertiny
Rara menaruh gelasnya di atas bar dapur. Ia menutup mulut, berusaha menahan agar minuman itu tidak keluar meski sekarang perutnya bergejolak tidak enak.Rara baru menyelesaikan gelas kedua. Tapi, ia rasanya sudah tidak ingin bersentuhan dengan minuman itu. Meski rasanya enak, tapi efeknya terlalu dahsyat. Rara tidak tahu masih bisa bertahan lebih lama atau tidak karena ia sekarang mulai merasa kepalanya berputar-putar.Berbeda dengan Rara yang kesusahan, Jefri justru terlihat menikmatinya. Ia menyesap minumannya dengan tenang. Habis dalam satu teguk sebelum menambah lagi minumannya.Itu sudah gelas keenamnya. Dan masih belum ada tanda-tanda Jefri akan tumbang. Rara melenguh dalam hati.“Apa mau Mas tuangkan juga?” tanya Jefri usai menuangkan miliknya.Rara ingin menolak. Ia butuh waktu untuk tidak melihat gelasnya terisi lagi, tapi senyum miring yang diulas Jefri itu terasa mengejeknya sekarang membuat dadanya memanas.Ia mengarahkannya ke Jefri dan berkata semantap mungkin, “Ya. Tuang
Beberapa hari berlalu seperti biasa. Meski begitu, Rara menemukan ada hal yang tidak biasa dalam diri Septa. Ia tidak tahu apa bedanya, tapi terasa ada yang mengganjal hatinya ketika bersama Septa akhir-akhir ini. Padahal, pria itu tetap suka bercanda receh dengannya. Masih juga suka mengoceh dan
[Ayo kita ketemu malam ini, Tan]Rachel menyeringai lebar saat melihat pesan yang dikirimkan Septa. Ia menaruh kembali ponselnya dan bersenandung pelan. “Anda terlihat senang, nyonya,” ucap penata riasnya yang sedang membersihkan make-up di wajah Rachel. Wanita itu memang baru
“Pokoknya jangan salahkan aku kalau kakimu keinjek, ya!”“Aku tinggal injek kakimu balik,” balas Septa sambil tertawa. Rara mendengus dengan senyum geli di wajahnya. Ia memerhatikan tangannya yang berpegangan dengan tangan Septa. Ia tiba-tiba teringat dengan latihan d
Rara dan Septa ikut menolehkan kepala ketika mendengar suara riuh para tamu ke pintu aula hotel. Napas Rara tercekat ketika melihat Jefri melangkah masuk bersama Rachel dan Hani. Ketiganya berpegangan tangan dengan posisi Hani berada di tengah.Warna busana mereka adalah merah maroon. Je







