“Shenina, mari kita menikah—”“Eren, besok aku akan menikah dengan seseorang—”Eren tersentak.Dadanya seolah diremas kuat ketika kalimat itu menghantamnya tanpa ampun. Napasnya tercekat, pandangannya bergetar.Di balik bahu Shenina, ada sosok seorang pria tinggi berdiri tegap. Bayangannya mengintimidasi. Eren berusaha memfokuskan pandangan, memaksa matanya mengenali wajah pria itu—siapa dia sebenarnya?Namun sebelum wajah itu benar-benar terlihat—Eren tiba-tiba membuka matanya, terbangun.Ia terduduk dengan napas memburu, dadanya naik turun tak beraturan seolah baru saja berlari. Kemeja yang dipakai sudah lembap oleh keringat, rambutnya sedikit basah di pelipis. Tangan Eren refleks mencubit pipinya, memastikan rasa sakit yang diterima.“Hanya mimpi,” gumamnya pelan.Eren mengusap wajah, menarik napas panjang berulang kali, mencoba menenangkan diri. Mimpi itu terasa terlalu nyata. Seolah alam bawah sadarnya sendiri sedang mempermainkannya.Pandangan Eren jatuh pada jam tangan di perg
Last Updated : 2025-12-17 Read more