Keheningan di ruang bawah tanah itu terasa seperti memanjang tanpa akhir, pengakuanku menggantung di udara seperti sesuatu yang beracun. Aku menunggu kekecewaan, luka, dan rasa dikhianati muncul di wajah Damar. Tapi yang terjadi berikutnya benar-benar membuatku terpaku.Tawa.Bukan tawa kecil yang sopan atau tawa canggung untuk mencairkan suasana, melainkan tawa yang dalam, tulus, dan penuh, keluar langsung dari dadanya. Bahunya ikut bergetar, dan untuk sesaat yang terasa konyol, aku bahkan berpikir dia mungkin tersedak."Kakek?" tanyaku ragu, rasa sesak di dadaku sejenak tergantikan oleh kekhawatiran.Dia mengangkat tangan, meminta waktu sejenak untuk mengatur napas. Akhirnya, sambil menyeka air mata tawa di sudut matanya, dia menatapku dengan ekspresi yang setengah terhibur, setengah penuh kelembutan."Sayang, aku ini delapan puluh tiga tahun, bukan delapan." Dia menggeleng sambil masih tersenyum. "Kamu benar-benar pikir aku tidak tahu?"Rasanya seolah pijakan di bawah kakiku tiba-ti
Baca selengkapnya