Sudut Pandang Vivian.Bel pintu berbunyi tepat jam tujuh, tepat waktu. Adriel selalu tepat, bahkan untuk momen santai sekalipun. Aku menekan tombol untuk membukakan pintu, jantungku berdetak lebih kencang sambil mengecek pantulan diri di cermin lorong untuk terakhir kalinya.Sore itu aku habiskan dengan menyiapkan makan malam, dan merencanakan setiap rincian dengan teliti. Favoritnya, bubur nasi gurih, sempurna, santannya pas, kaya rasa, persis seperti yang dia suka. Butuh hampir dua jam mengaduk terus-menerus agar beras menyerap kaldu perlahan, seperti yang diajarkan ibuku bertahun-tahun lalu. Meja sudah ditata dengan lilin, tidak berlebihan, cukup romantis untuk momen yang sudah kusiapkan sepanjang minggu.Sejak aku tahu aku hamil, aku sudah membayangkan bagaimana akan memberitahunya. Kata-kata yang sempurna, suasana yang tepat, dan kebahagiaan di wajahnya. Tapi begitu saat itu benar-benar datang, jantungku berdebar kencang karena gugup. Aku mendengar langkahnya di lorong sebelum di
Baca selengkapnya