"Jangan kaget, Isla," kata Alfred dengan senyum tipis penuh makna. "Ada banyak hal tentang diriku yang belum kamu ketahui. Dan hari ini, aku akan menceritakan sedikit. Bukan karena aku ingin, tapi karena kamu pantas mengetahuinya."Dia berhenti sejenak, mencengkeram gagang tongkatnya sebelum berjalan kembali ke kursinya. Irama langkahnya yang pelan menggema lembut di ruang kerja itu. Saat dia duduk, Isla ikut menyesuaikan posisinya, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan."Aku sudah membuat banyak kesalahan, Isla," ujarnya, suaranya kini lebih rendah, sarat penyesalan. "Dan sekarang, aku ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan itu sebelum aku meninggalkan dunia ini."Dia bersandar sedikit ke belakang, menatap kosong, seolah-olah pikirannya melayang ke masa yang sudah lama berlalu."Anakku, John, dulu jatuh cinta pada seorang wanita cantik. Namanya Janet. Dia yatim piatu, sederhana tapi anggun. Tapi aku ... aku pikir dia nggak cukup pantas untuknya."Bibir Isla sedikit terbuka. Dad
Read more