Davidson duduk di kursi kerjanya, membungkuk sedikit ke arah monitor, mengetik cepat tanpa berhenti. Malam semakin larut, tapi konsentrasinya masih tajam, sampai suara, tok… tok… tok… memotong kesunyian senyap. Davidson mengangkat wajah, kening berkerut. Pintu terbuka pelan sekali, seolah memang sengaja dibuat dramatik. Dan masuklah Kirena, mengenakan pakaian tidur satin tipis berwarna pucat, rambut terurai rapi, tangan membawa secangkir teh herbal yang masih mengepul hangat. Davidson langsung menatapnya. Dingin. Tersirat rasa tidak suka yang jelas. “Kenapa kau masuk tanpa izin dulu?” suaranya datar. Kirena tersenyum lembut, seolah tidak melihat ekspresi Davidson sama sekali. “Aku membawakan teh herbal. Kau pasti bekerja terlalu keras lagi, David.” Ia berjalan masuk tanpa menunggu jawaban, meletakkan cangkir itu di meja kerja Davidson seperti sudah sangat terbiasa. Davidson hanya menekan bibirnya, tidak ingin memulai pertengkaran. Dia tidak ingin ada keributan yang bisa memb
Read more