Setelah mendengar cerita dari Ayah dan Ibu Helena tentang apa yang terjadi di restoran tadi, kini ia hanya mematung. Senyumnya benar-benar hilang. Tubuhnya pelan-pelan lunglai di sofa. Walaupun Ayah dan Ibu Helena masih bergumam bingung, Monica sudah tidak mendengar apa pun lagi. Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat, “Pria yang bersama Helena bisa melakukan hal mengerikan secepat itu…” Ketakutan di hatinya makin tidak terkendali. Setelah Ayah selesai bicara, Monica berdiri pelan, wajahnya pucat. Kini, rasa terancam di hatinya makin menakutkan. Padahal itu rumah tempat ia tinggal bertahun-tahun, rumah yang selalu aman. Tapi malam itu seketika semuanya telah berbeda. Monica berjalan ke jendela, merapatkan tirai dengan cepat, bahkan menaruh kursi sebagai pengganjal pintu. Setiap suara kecil, pintu kulkas, langkah Ayah di lorong, suara motor tetangga, membuatnya tersentak. Ia langsung berpindah duduk di tepi ranjang, memeluk bantal. “Bagaimana kalau dia sudah kirim o
Read more