“Hah? Kamu ngomong apa sih, Va? Kapan aku foto sama perempuan? Aku nggak pernah!” Kang Helmi mengelak, tapi bisa kulihat keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya.“Iya, foto bareng nggak pernah.. tapi video call mesum bareng mah sering, iya kan Kang? Ngaku kamu!”“Sering apa?! kapan?! Kalau ngomong itu harus jelas buktinya, jangan asal nuduh!”“Lah yang barusan itu memangnya bukan bukti? Akang pikir yang barusan aku dengar, yang barusan aku lihat, itu cuma halusinasi? Liat, burungmu aja masih tegak begitu!!”Kutunjuk tonjolan di balik handuk, kang Helmi gegas menarik kausnya ke bawah, berusaha menutupi barang bukti yang tak bisa dielakkan lagi itu.Dadaku bergemuruh, kepalaku rasanya penuh. Ingin kuluapkan semuanya, sebelum pembuluh darahku pecah dan aku stroke.Setelah semua yang terjadi, sifat kang Helmi yang tak kunjung berubah, lebih mengutamakan ibu dan adiknya ketimbang anak istri. Sifat kekanakannya, dikit-dikit minggat dan puncaknya belakangan ini. Ditambah lagi dia
Dernière mise à jour : 2025-12-22 Read More