LOGINSuamiku lebih memilih menemui mantan pacarnya yang baru menjanda, ketimbang menemani anaknya yang masuk RS. Akhirnya aku pontang panting sendirian, tapi syukurlah ada duda tetangga yang menolongku. Dia ganteng, royal, pengertian dan sangat memanjakan aku! Haruskah aku menghindar, atau kujajal saja dosa yang terasa manis ini?
View More“Jangan main-main. Buka mulutnya, aaahh–”
“Teh Eva! Ada duit lima puluh enggak?”
Aku terlonjak saat Yuli datang tergesa saat aku sedang menyuapi Hafsah, anak pertamaku yang berusia tiga tahun itu. Padahal adik iparku itu belum juga sampai di hadapan, tapi ia sudah mengatakan maksud dan tujuannya kemari dari kejauhan.
“Mi … lagi,” ucap Hafsah, membuatku menyuapinya lagi sembari menunggu Yuli sampai di hadapan.
“Ih, kenapa nggak jawab?” sungut Yuli dengan ekspresi tidak sabar. “Ada apa enggak?”
“Memang kenapa, Yul?”
“Jawab aja kenapa sih?”
Aku menghela napas. Kuletakkan piring yang berisi nasi dan sayur sop di atas meja teras, lalu meraih dompet yang tergeletak di sebelah vas bunga.
Isinya hanya tinggal selembar uang dua puluh ribuan saja,
“Adanya cuma segini,” kataku, sambil menunjukkan sisa uang yang ada dalam dompet berwarna kuning itu.
Wajah Yuli langsung masam.
“Yang bener aja atuh, Teh! Masa cuma dua puluh? Orang butuhnya juga lima puluh!” Dia malah mengomel.
“Yaa kalo emang cuma ada dua puluh terus gimana? Masa aku harus maksain nyari sisanya?”
“Ckk, kok bisa sih Teh masih tanggung bulan begini duitnya tinggal dua puluh? Kang Helmi kan pegawai kecamatan, gajinya lumayan!”
Kembali kuhela napas mendengar omelan adik iparku itu.
Memangnya dia pikir pegawai kecamatan berapa gajinya? Cuma dua juta setengah saja. Itu juga harus dibagi dengan biaya bulanan ibunya, alias mertuaku.
Jadi jatah keluarga hanya dua juta, itu sudah termasuk bayar air dan listrik, beli susu, biaya makan, dan juga bensin kang Helmi. Belum lagi jika Yuli tiba-tiba pinjam uang macam begini, jika tidak diberi maka dia akan mengomel habis-habisan.
“Makanya jangan boros dong, Teh. Aku tau dari tadi pagi si Hafsah makan terus, kan? Jajan terus. Makanya duit Kang Helmi cepet abis!”
Tanganku langsung terkepal mendengar tudingan Yuli, namun belum sempat aku menyahuti ucapannya dia keburu pergi tak tahu ke mana.
“Padahal anakku kan jajan pakai uang bapaknya sendiri. Kenapa dia yang marah?” gumamku pada diri sendiri.
“Mi.. lagi.”
“Ah iya sayang, nih ... sesuap lagi abis yaa?”
Kulanjutkan menyuapi Hafsah. Anakku ini baru sembuh, Alhamdulillah lagi doyan-doyannya makan. Sampai siang ini dia sudah tiga kali makan.
Walau lauknya hanya sayur sop dengan bakso, tetapi Hafsah lahap sekali dan itu membuatku senang.
Selang setengah jam kemudian, Kang Helmi pulang. Suara khas knalpot motor dua tax-nya sudah sangat kukenal, dan Hafsah bahkan dengan ceria menyambut abinya pulang.
“Abi!” panggilnya di pintu depan.
Lelaki yang sudah menikah empat tahun denganku itu melepas helmnya, lalu tersenyum ke arah anak kami satu-satunya.
“Aduhh, anak Abi udah sehat ya? Alhamdulillah.. sini Abi cium.”
Kang Helmi menggendong Hafsah, lalu menciumi kedua pipinya yang agak kurus karena sakit kemarin.
“Tumben pulangnya cepet, Kang?” tanyaku, sambil menyambut tangan kanannya dan mencium punggung tangan suamiku dengan khidmat.
“Iya, kerjaan udah pada beres ya mendingan pulang. Ketemu istri dan anak. Hehe.”
Aku tersenyum mendengar jawaban kang Helmi, lelaki baik yang usianya dua tahun lebih tua daripada aku. Kami satu sekolah saat SMA, dia kakak kelasku dan jatuh cinta padaku saat aku bekerja di kantin tempatnya kuliah dulu.
Lucu memang, seorang mahasiswa yang populer dan soleh malah jatuh cinta dengan pelayan kantin macam aku. Namanya jodoh, memang unik.
“Akang mau makan sekarang? Apa mau mandi dulu?”
“Makan dulu deh, enggak tahan udah lapar nih. Hafsah udah makan?”
Hafsah mengangguk, lalu berceloteh bahwa tadi dia sudah makan dengan sop di depan rumah. Tak lama kudengar mereka sudah bercanda, Hafsah tertawa riang saat main dengan abinya, dan aku menyiapkan makan untuk kang Helmi.
Sop kuhangatkan lagi, kusiapkan sambel cabe rawit dan kerupuk juga untuk makan suamiku. Setelah semuanya siap, kuhidangkan ke depan. Kang Helmi pun makan dengan lahap, aku dan Hafsah menemaninya makan sambil nonton kartun.
“Kang, uang belanjaku tinggal dua puluh. Akang masih ada pegangan enggak?” tanyaku hati-hati, setelah suamiku selesai makan.
Ekspresi suamiku langsung berubah tak enak,
“Aduh, Va.. uangku tadi dikasih ke si Yuli. Dia pinjam dulu seratus katanya besok diganti.”
“Apa Kang? Dikasih ke Yuli?!”
Tanpa sadar aku bicara dengan nada suara yang cukup tinggi, aku buru-buru minta maaf karena tak sengaja. Bukannya apa-apa tapi tadi Yuli pinjam uang padaku nominalnya 50, lalu karena tak ada padaku dia mendatangi kakaknya dan minta lebih banyak.
Yang benar saja!?
“Seratus? Akang kasih semua?”
“Iya, soalnya kasian. Katanya dia pesan barang COD, barangnya datang sekarang dan dia belum pegang uang. Dia kira datangnya besok kan, pas sama suaminya dapet persenan dari jual tanah itu.”
Kang Helmi menceritakan detailnya tanpa rasa bersalah, seolah-olah yang baru saja dia lakukan itu bukan hal yang fatal.
Aku mulai kesal, tapi aku tak pernah bisa marah.
“Padahal tadi dia ke rumah, Kang. Minjem sama aku 50 tapi kan aku enggak ada.. eh malah minjem ke Akang, lebih gede lagi!”
“Ya gimana lagi? Emangnya Akang tau kalo Yuli cuma butuh lima puluh?”
Aku menghela napas sesak,
“Terus Akang enggak punya pegangan lagi, sama sekali?”
Suamiku menggeleng, dia menenggak air teh dalam gelasnya sampai habis. Dia mulai terlihat malas dengan percakapan kami.
“Kenapa enggak dikasih setengahnya aja sih, Kang? Udah tau uangnya tinggal seratus, malah dikasih semua!” gerutuku.
Brak!
Kang Helmi meletakkan gelas cukup keras di atas meja kecil tempat kami makan lesehan, aku sampai terperanjat kaget. Hafsah yang duduk di pangkuanku juga kaget, untung dia tak menangis.
“Terus mau gimana? Mau aku ambil lagi duitnya, iya? Kan aku kasih juga karena si Yuli bilang, besok si Edi cair. Dia dapat bayaran dari orang yang dijualin sawahnya!”
Kalau sudah begini, aku tak bisa mengatakan apapun lagi. Kang Helmi memang tipe lelaki penyayang keluarga, khususnya ibu dan adik semata wayangnya.
Aku tak bilang jika dia tak menyayangi aku dan Hafsah, dia juga bersikap sangat baik pada kami. Tapi entahlah, kadang kasih sayangnya pada ibu dan adiknya mengalahkan kasih sayangnya padaku dan anak kami.
Seperti sekarang, uang tinggal seratus langsung diberikan semua pada adiknya. Padahal dia tak punya pegangan lagi, dan tanggal gajian masih sangat lama. Mau makan apa kami besok?
“Masalahnya, Yuli itu hampir enggak pernah bayar hutangnya sama kita, Kang. Apa mungkin dia besok tepat janji?”
Kang Helmi mendelik, dia tak suka mendengar adiknya dijelekkan seperti itu walaupun yang kukatakan adalah kenyataan.
Aku mengatakan hal itu bukan karena kejadian ini saja, melainkan karena sudah berkali-kali, bahkan mungkin sudah puluhan atau ratusan kali. Yuli meminjam uang, nominalnya berbeda-beda dari hanya dua ribu untuk jajan cilok anaknya, sampai ratusan ribu.
Dari semua yang dia pinjam, mungkin hanya sekitar beberapa pinjaman saja yang dikembalikan. Itu pun setelah ditagih berkali-kali dan aku didiamkan oleh kang Helmi gara-gara menagih.
Dadaku sesak, karena kecewa dan kesal. Tapi kang Helmi juga sama kesalnya padaku, karena merasa aku mengaturnya urusan uang dan keluarga.
Baru saja dia mau bicara, tiba-tiba terdengar salam dari luar.
“Asalamualaikum, Mi! Helmi! Kamu udah pulang?!”
Itu suara mertuaku, ada apa dia kemari?
Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b
Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik
Di rumah Eva, suasana terasa sangat hangat dan nyaman. Berbanding terbalik dengan rumah sang mantan yang panasnya mengalahkan gurun Gobi di musim panas.Aroma bunga melati dari pot di sudut teras bercampur dengan semerbak teh panas yang baru saja diseduh Bu Aminah.Eva sedang duduk di teras, memilah-milah beberapa pesanan kain yang baru saja sampai, ketika suara langkah kaki terburu-buru dan deru napas yang antusias terdengar dari arah jalan besar."Neng Eva! Aduh, Neng Eva... sudah dengar belum kabar heboh pagi ini?"Itu suara Bu Reni, tetangga depan rumah yang juga pelanggan setia jasa titip beli Eva.Di belakangnya, Bu Erna menyusul dengan wajah yang tak kalah riang karena membawa berita panas. Keduanya adalah informan tercepat di lingkungan itu, lebih akurat dari portal berita daring mana pun.Eva tersenyum tipis, menanggapi para tetangganya itu dengan santai."Kabar apa, Bu Reni? Mari duduk dulu, ini ada teh hangat."Bu Reni dan Bu Erna duduk dengan posisi condong ke depan, tanda
Helmi berdiri di tengah ruang tamu, seragam cokelat PNS-nya tampak sangat lusuh dan basah oleh keringat dingin.Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.Di tangannya, ia menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala, menampilkan daftar panggilan tak terjawab dari nomor-nomor asing yang jumlahnya puluhan.Baru ditolak satu, muncul lagi yang lain. Begitu terus hingga jumlah nomor asingnya ada puluhan. "YULI! KAMU KETERLALUAN BANGET SAMA AKANG, YA?!" teriak Helmi hingga suaranya parau."Kamu tahu nggak? Tadi siang, meja resepsionis di kantor kecamatan itu lumpuh gara-gara telepon dari penagih hutang!""Mereka nggak cuma telepon ke mejaku, Yul! Mereka menelepon bagian umum, mereka menelepon Pak Sekcam, bahkan mereka berani menelepon ke ruangan Pak Camat!"Yuli yang keluar dari kamarnya setelah digedor sang jkakak, hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan. Isak tangisnya terdengar menyedihkan, namun tak ada lagi empati yang tersisa di hati
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews