Pelukan hangat itu bertahan cukup lama, seolah keduanya sedang mengisi ulang energi untuk menghadapi badai yang mungkin saja masih tersisa di luar sana. Vivian bisa merasakan detak jantung Juno yang stabil, memberikan irama ketenangan yang selama ini ia cari. "Sudah cukup dramatisnya?" bisik Juno tiba-tiba, merusak suasana syahdu dengan nada jahilnya yang khas. Vivian mendongak, mencubit pinggang Juno pelan. "Baru saja aku mau merasa terharu, kamu sudah kumat lagi menyebalkannya." Juno tertawa kecil, lalu mengacak rambut Vivian dengan gemas. "Ayo mandi. Aku sudah meminta asistenku mengirimkan beberapa pakaian untukmu. Ada di dalam paper bag di atas sofa depan. Setelah itu, kita sarapan. Aku tidak mau calon istriku pingsan karena telat makan." "Calon istri? Percaya diri sekali kamu, Tuan Juno," cibir Vivian, meski rona merah di pipinya tidak bisa berbohong. "Harus. Di dunia bisnis, kalau tidak percaya diri, kita akan dimakan lawan. Begitu juga dalam urusan hati," jawab Juno s
Last Updated : 2025-12-20 Read more