Vivian tahu, berdebat dengan Juno sama saja dengan menantang badai. Kekhawatirannya bercampur aduk dengan sensasi geli dan bahagia karena kehadirannya. Ia menghela napas panjang, menyerah pada keadaan. Kesehatan Juno adalah yang utama, dan menyiapkan sarapan bergizi jauh lebih penting daripada meributkan kenekatannya datang pagi-pagi buta."Oke, Tuan Keras Kepala," ucap Vivian, menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. "Sarapan sehat. Tapi awas, duduk manis, ya. Jangan banyak tingkah. Aku tidak mau lukamu kenapa-kenapa lagi."Vivian berbalik badan, mempersilakan Juno masuk. Pria itu melangkah masuk dengan santai, namun matanya tak sedikit pun lepas dari Vivian."Siap, Komandan," sahut Juno, dengan nada hormat yang dibuat-buat, namun sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan kepatuhan. Ia berjalan menuju sofa beludru di ruang tamu, namun pandangannya dan seluruh perhatiannya tertuju pada Vivian.Vivian bergegas menuju dapur penthouse-nya. Ia baru menyadari penampilannya. Hanya be
Last Updated : 2025-12-16 Read more