Tiga hari telah berlalu, namun lampu di ruang ICU itu masih tetap sama—pucat dan dingin. Juno tidak pernah meninggalkan posisinya. Ia tidur di kursi tunggu yang keras, mandi seadanya di toilet rumah sakit, dan mengabaikan puluhan panggilan dari dewan direksi perusahaannya. Fokusnya terbagi dua: memohon pada Tuhan demi kesadaran Vivian, dan menahan amarah yang mulai membakar kewarasannya.Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi yang nyaring menggema di lorong sunyi itu. Juno tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau parfum mawar yang menyengat itu sudah cukup menjadi pertanda."Juno, sayang... kamu terlihat kacau sekali," suara Clarissa terdengar lembut, namun di telinga Juno, itu seperti desisan ular.Juno bangkit, matanya yang merah karena kurang tidur menatap Clarissa dengan kebencian murni. "Mau apa kau ke sini? Belum puas kau menghancurkan hidupku?"Clarissa justru tersenyum tipis, ia melangkah mendekat tanpa rasa takut. "Menghancurkan hidupmu? Tidak, Juno. Aku
Last Updated : 2026-01-01 Read more