Alea membangun tembok itu dengan sengaja. Bukan tembok yang terlihat, bukan pula yang bisa disentuh. Melainkan jarak yang dingin, sikap yang terukur, dan tatapan yang tidak lagi memberi ruang. Ia tidak berteriak. Tidak menghindar secara dramatis. Ia hanya berhenti berusaha.Dan bagi Farel, itu jauh lebih menyakitkan. Koridor fakultas dipenuhi lalu lalang mahasiswa, suara tawa, langkah kaki, dan percakapan yang tumpang tindih. Namun saat Alea muncul dari ujung lorong, seolah ada ruang kosong yang tercipta di sekelilingnya. Bahunya tegak, langkahnya mantap, ekspresinya netral—terlalu netral. Farel berdiri bersama Alexa. Ia melihat Alea lebih dulu, refleks tubuhnya langsung menegang. Ia melangkah satu langkah ke depan sebelum sadar bahwa Alea sama sekali tidak menoleh. Bukan pura-pura tidak melihat. Ia benar-benar tidak peduli. “Alea,” panggil Farel. Nama itu meluncur begitu saja, seolah masih punya hak. Alea berhenti. Perlahan ia menoleh, bukan dengan senyum, melainkan dengan tatap
Last Updated : 2025-12-20 Read more