Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh. Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan. Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri. Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. “Icha…” gumamnya lirih. Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar. Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya. Setelah itu, ia kembali memeluk Icha. “Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi.
Huling Na-update : 2026-04-20 Magbasa pa