Haykal tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar menyala redup, sementara bayangan tirai menari di dinding. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Tangisan Icha di rumah sakit kembali terputar di kepalanya, jelas, menusuk, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan memukul tulang rusuknya sendiri dari dalam. Untuk pertama kalinya, Haykal merasakan panik yang tidak bisa ia kendalikan. Ia bangkit duduk, menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.“Tenang,” gumamnya lirih. “Tidak ada apa-apa.”Namun kata-kata itu tidak bekerja.Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Haykal berdiri di depan rumah keluarga Hartono, tempat yang dulu bisa ia datangi tanpa perlu izin. Kini, gerbang besi itu tertutup rapat, dingin, kaku, dan tidak bersahabat. Satpam yang sama berdiri di baliknya, sikapnya formal, tanpa ekspresi.“Perintah Bapak Hartono masih sama, Tuan,” ucapnya singkat. “Kami tidak bisa membukakan gerbang.”R
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-20 Mehr lesen