LOGINAku telah menikah dengan Haykal selama dua tahun. Andai saja dulu aku tahu, lelaki yang berjanji akan melindungiku seumur hidup justru akan menuntunku pada akhir hidupku sendiri—karena seorang gadis yang kuanggap adikku, maka aku pasti akan membunuh mereka lebih dulu. Tidak cukup bagi mereka untuk berselingkuh dan memiliki anak. Ketika aku melarang mereka bertemu, mereka justru menuntut yang lebih kejam—ginjalku, seolah hidupku hanya kompensasi atas cinta terlarang yang ingin mereka pertahankan. Namun ironi terbesar datang setelah aku mati. Haykal, lelaki yang dulu begitu manis dan penuh janji, tiba-tiba kehilangan kewarasannya. Rasa bersalah, ketakutan, atau mungkin obsesi yang tak pernah kupahami, membuatnya terperosok ke jurang kegilaan. Dalam keadaan itu, ia justru menghabisi selingkuhannya sendiri—gadis yang juga pernah kupanggil adik, yang pernah kubela mati-matian. Pada akhirnya, pengkhianatan mereka berdua tidak hanya merenggut hidupku, tetapi juga menelan mereka dengan cara yang tak pernah kusangka.
View MorePov Icha
Dua tahun pernikahanku dengan Haykal memang berjalan tenang, tapi semua berubah, saat kabar dari orang tuaku tiba. "Icha.. Alia hamil di luar negeri. Dan ayah dari anak itu… Haykal." Telingaku berdengung seketika. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin lelaki yang setiap hari tidur di sampingku, yang memelukku dengan lembut, mampu menikamku sedalam ini? Saat aku masih terpaku, pintu kamar terbuka dan Haykal masuk. “Cha, malam ini aku pulang agak larut. Jangan tunggu aku,” katanya santai. Aku menatapnya tanpa suara. “Sayang, ada apa? Kenapa diam?” “Haykal… kamu tahu kan, aku tidak suka dikhianati? Jika suatu hari nanti kamu mengkhianatiku, aku hanya bisa pergi dari hidupmu. Selamanya. Entah itu dengan kematian atau kepergian.” Haykal langsung membeku. Sorot matanya kosong sesaat, seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan pijakan. Lalu ia buru-buru memelukku erat, hampir seperti anak kecil yang takut ditinggalkan. “Icha… aku bersumpah, aku tidak akan berkhianat darimu. Kamu harus percaya, kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai.” Aku menatap dinding di belakang punggungnya, bukan dirinya. “Kalau begitu,” ucapku pelan, “aku ingin punya anak. Kamu pasti setuju, kan?” Tubuh Haykal yang masih menempel di tubuhku menegang seketika. Ia menjauh sedikit, dan dengan suara keras menolak, “Nggak! Kamu nggak boleh punya anak!” “Kita sudah menikah dua tahun, Haykal. Masa-” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia langsung memotong cepat, suara panik menyelinap di balik nada tegasnya. “Icha… kamu tahu tubuhmu lemah. Kalau kamu hamil, nyawamu yang jadi taruhannya. Kita bisa angkat anak. Aku akan memberi margaku, aku akan menyayanginya seperti anak kita sendiri. Kamu nggak perlu khawatir. Keluargaku pun sudah setuju.” Aku hanya diam, menatap matanya cukup lama hingga ia gelisah. Rencananya bukan ingin mengangkat anak, tapi ingin anak itu. Anak dari Alia. Dan aku… aku yang akan dijadikan ibu pengganti untuk menutupi semuanya. Benar-benar konyol. Aku mendengus dalam hati. “Haykal…” bisikku pelan. “Apa kamu benar-benar mencintaiku? Dan tidak ada wanita lain di sisimu?” Ia menatapku dengan mata yang tampak tulus. “Aku hanya mencintaimu, Cha. Cuma kamu. Tolong percaya padaku.” Jika saja aku tidak melihat foto-foto itu, jepretan yang memperlihatkan Haykal bersama Alia di luar negeri, mungkin aku masih bisa mempercayainya. Mungkin aku akan kembali luluh, seperti dua tahun terakhir ini. Namun sekarang aku tahu. Pria yang berdiri di hadapanku bukanlah suami setia seperti yang selama ini kupeluk setiap malam. Ia hanyalah lelaki berwajah lembut dengan hati penuh kebohongan, dan kemampuan berakting yang begitu kejam. Aku tidak tahu dari mana awal mula kesalahan ini terjadi. Apakah saat aku masih menerima Haykal, meski dia telah mengkhianatiku? Atau saat dengan polosnya aku mengenalkan Alia kepadanya? Atau… mungkin jauh lebih awal. Sejak hari aku mengangkat Alia sebagai adik angkatku, tanpa pernah menduga takdir akan berbalik sekejam ini. Tubuhku bergetar pelan. Bukan karena dingin, melainkan karena akhirnya aku sadar, mungkin akulah yang tanpa sengaja membuka pintu kehancuran itu sendiri. Haykal pergi sebelum fajar. Saat aku terbangun, sisi ranjangnya sudah dingin. Bantalnya rapi. Lemari pakaiannya terbuka sedikit, menyisakan ruang kosong yang terlalu jelas untuk diabaikan. Tidak ada pesan di meja. Tidak ada kecupan di kening seperti biasanya. Pukul sembilan pagi, ponselku bergetar. Bukan darinya. “Pak Haykal ada dinas mendadak ke luar negeri, Bu,” suara sekretarisnya terdengar hati-hati. “Beliau titip pesan agar Ibu tidak khawatir.” Aku menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama sebelum mematikannya. Saat siang tiba, aku pergi kerumah orang tuaku. Rumah keluarga Hartono. Aku duduk di ruang kerja Ayah. Tirai ditutup rapat. Hanya cahaya dari layar laptop yang menerangi wajah kami. “Aku mau tahu keberadaan Haykal,” ucapku pelan. Ayah tidak bertanya apa pun. Ia hanya memberi isyarat pada seseorang di seberang meja. Beberapa jam kemudian, sebuah tablet diletakkan di hadapanku. Rekaman lobi hotel. Waktu tercetak jelas di sudut layar. Pintu lift terbuka. Haykal keluar lebih dulu. Beberapa detik kemudian, Alia menyusul. Kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya, tapi aku tetap mengenal cara ia berjalan. Mereka tidak bergandengan tangan. Tapi jarak di antara mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Video berhenti. Tak ada suara di ruangan itu selain napasku sendiri. “Perlu bukti lain?” tanya Ayah akhirnya. Aku menggeleng pelan. Tanganku terasa sangat tenang saat meraih ponsel. Nomor pengacara keluarga sudah tersimpan disana, entah sejak kapan. Ia mengangkat pada dering ketiga. “Selamat siang, Nyonya Icha.” “Siapkan draf akta perceraian untukku,” ucapku dengan suara datar. Tidak ada getaran dalam suaraku. Tidak ada tangis. Hanya keputusan. “Alasannya?” tanyanya dengan hati-hati. Aku menatap kembali layar tablet yang kini hitam. “Perselingkuhan,” jawabku singkat. “Dan siapkan klausul perlindungan aset. Semua harta miliknya yang sudah menjadi milikku, jangan sampai tersentuh.” “Baik. Akan segera saya susun, nyonya.” Panggilan itu terputus. Ayah menatapku lekat-lekat. “Sudah yakin?” tanyanya dengan suara datar. Aku merapikan lengan bajuku yang sedikit bergetar. “Sudah.” Karena Haykal memilih menyembunyikan Alia dariku, aku memilih melepaskannya sepenuhnya. Meskipun keluargaku tak lagi sekuat dulu dan berada jauh di belakang pengaruh keluarga Haykal, kami masih memiliki kekuatan untuk melindungi diri. Haykal tidak pernah menyadari, saat ia memilih berbohong, ia juga akan kehilangan aku untuk selamanya.Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh.Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan.Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan.Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri.Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.“Icha…” gumamnya lirih.Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar.Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya.Setelah itu, ia kembali memeluk Icha.“Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar.“Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi. Oke? Aku akan selal
Ia melepas mantelnya, lalu melemparkannya sembarangan ke tanah yang dingin dan lembap. Napas Haykal terlihat jelas di udara malam yang menusuk tulang. Dadanya naik turun, berat, seolah paru-parunya menolak bekerja sama. Di tengah sunyi yang mencekam itu, Haykal mulai menggali makam Icha.Sekopnya menghantam tanah berkali-kali. Tanah basah terangkat sedikit demi sedikit, menumpuk di samping lubang. Tangannya mulai pegal, lengannya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Matanya kosong, pikirannya hanya dipenuhi satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala.Icha tidak mungkin mati.Waktu berjalan tanpa terasa. Malam seakan membeku, menyaksikan kegilaan yang perlahan mengambil bentuk. Dua puluh menit berlalu tanpa satu suara pun selain bunyi sekop yang menghantam tanah dan napas Haykal yang semakin berat, terengah, bercampur emosi yang tak beraturan. Keringat mengalir di pelipisnya meski udara begitu dingin.Akhirnya, sekop itu terlempar ke samping. Haykal menatap peti mati yang kini ter
Haykal berlari menyusuri lorong rumah itu tanpa arah yang jelas. Napasnya terengah-engah, langkahnya tersandung oleh harapan yang keras kepala dan menolak mati. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti kemungkinan terakhir, bahwa di balik salah satunya Icha akan muncul dan menatapnya dengan wajah letih. Dadanya naik turun, denyut di pelipisnya berdegup terlalu keras.Ia berhenti di depan sebuah pintu.Pintu kamar Icha.Haykal mendorongnya tanpa ragu. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang yang langsung membuat langkahnya tertahan. Kosong.Kamar itu bersih, rapi, terlalu rapi. Tidak ada aroma tubuh, tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan, tidak ada barang yang terlihat baru disentuh. Udara di dalamnya dingin dan sunyi, seperti kamar yang sudah lama ditinggalkan. Seolah tempat itu tak pernah menjadi saksi seseorang yang berjuang antara hidup dan mati.Sesak itu datang tiba-tiba, menekan dadanya hingga napasnya terhenti sesaat. Namun pikirannya tetap membantah, menolak k
Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.Ia berbalik tanpa berkata apa-apa dan keluar dari kamar.Langkahnya cepat, hampir berlari. Tangannya gemetar ketika meraih ponsel dari dalam tas. Ia menekan nama Icha.Nada sambung terdengar.Satu kali.Terputus.Ia mencoba lagi.Dua kali.Tiga kali.Berkali-kali.Namun hasilnya sama. Tidak ada suara Icha. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang dingin dan tanpa perasaan, seolah menertawakan kecemasannya.Ibu Haykal menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.