Lian Hua tersenyum.Bukan senyum orang yang tersesat di jalan berkabut, bukan pula senyum pedagang yang kelelahan. Itu senyum seseorang yang telah menghitung jarak langkah, arah angin, denyut nadi lawan, dan kemungkinan mati... semuanya dalam satu tarikan napas pendek.“Aku tidak memaksa,” ucapnya lembut.Satu langkah kecil ke depan. Tidak terburu-buru maupun ragu.Teratai hitam di telapak tangannya bergetar, lalu perlahan menutup, kelopaknya saling mengunci seperti makhluk hidup yang memilih tidur. Cahaya gelapnya meredup, tapi tekanannya justru terasa lebih jelas, menempel di kulit seperti bayangan yang enggan pergi.“Aku hanya…” Lian Hua menunduk sedikit, nada suaranya merendah. “…terluka.”Ia menarik lengan bajunya.Di pergelangan tangan pucat itu, di balik kulit yang tampak rapuh, mengular garis keunguan tipis, bekas racun spiritual tingkat tinggi. Qi di sekitarnya tidak stabil, berdenyut tidak beraturan. Bekas pertarungan berat yang hampir merenggut nyawa.Mei Shia menyipitkan m
Last Updated : 2026-01-25 Read more