Daniel menarik napas dalam-dalam, aroma sampo Alya dan parfum mahalnya yang kini bercampur dengan keringat dan gairah, memenuhi indranya. Ia merasakan tubuh Alya yang lembut dan hangat di bawahnya, sebuah kontras yang menenangkan setelah hiruk pikuk emosi dan adrenalin di ruang konferensi pers.Mereka terbaring di sofa kulit hitam besar, yang dirancang untuk menerima tamu-tamu VVIP, kini menjadi saksi bisu keintiman mereka. Pakaian mereka, blus, kemeja, dasi, dan rok pensil, teronggok tak berdaya di lantai marmer, seolah-olah simbol formalitas dan intrik bisnis yang kini telah mereka campakkan.Alya mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, membelai garis rahang Daniel yang keras. Dia masih mengenakan kalung statement peraknya, kilauannya memantul dari cahaya kota yang masuk melalui jendela, satu-satunya perhiasan yang tersisa dari citra profesionalnya."Aku merasa... kosong," bisik Alya, suaranya serak. Itu bukan kosong karena kesedihan, melainkan kelegaan yang luar bi
Huling Na-update : 2025-12-12 Magbasa pa