Lorong bawah tanah istana dipenuhi bau lembap dan besi tua.Dyall masih berdiri beberapa langkah dari kurungan itu.Jubahnya menjuntai menyentuh lantai batu, namun bahunya tegak, dan tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun kelelahan meski malam telah lama berlalu. Di wajahnya terlukis satu hal yang tak bisa disembunyikan, kemarahan yang dikendalikan dengan paksa.Ia melangkah lebih dekat ke jeruji besi.Setiap langkahnya bergema di lorong sempit itu, memantul di dinding-dinding batu seperti dentang keputusan yang tak bisa ditarik kembali.“Dan sekarang kalian bicara tentang penderitaan,” ucap Dyall pelan, suaranya rendah namun tajam seperti bilah pedang, “seolah kalianlah korbannya.”Di dalam kurungan, Duke Levric berdiri dengan tangan terborgol, tubuhnya masih menyimpan luka pertempuran. Di sampingnya, Riaven duduk bersandar pada dinding batu dengan senyum miring yang tidak pernah padam. Count Velcross tertunduk diam, wajahnya pucat, sementara Ivanka duduk di sudut paling gelap, mem
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-26 อ่านเพิ่มเติม