“Dan kau pengkhianat,” balas Count Velcross dengan suara pecah.Ia melangkah maju.Di dalam sel yang gelap itu, bukan hanya rantai yang mengikat mereka melainkan dosa, pengkhianatan, dan amarah yang akhirnya meledak tanpa kendali.Jeritan, tangis, dan makian bercampur menjadi satu, menggema di penjara bawah tanah.Ivanka tidak bergerak sedikit pun.Ia berdiri di sisi jeruji besi, punggungnya tegak, tangannya mencengkeram dingin batang besi yang lembap. Matanya menatap lurus ke dalam sel ke arah ayahnya yang sedang diliputi amarah dan kehancuran.Count Velcross terengah-engah setelah luapan emosinya meledak. Dadanya naik turun kasar, napasnya berat. Di sudut ruangan, Countess Velcross meringkuk dengan tubuh gemetar, sementara lelaki muda itu sudah jatuh terduduk, wajahnya pucat seperti mayat hidup.Namun Ivanka tidak menatap mereka.Ia hanya menatap ayahnya.Pria itu kini tampak tua. Bahunya yang dulu selalu tegak kini merosot, tangannya bergetar, dan matanya merah oleh amarah yang ber
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-22 อ่านเพิ่มเติม