“Hati-hati, Salman. Di kota ini, dinding pun seolah punya telinga. Terlalu banyak informan musuh yang berkeliaran di Beirut. Itulah kenapa aku selalu cemas dengan kegilaan Bang Nassar yang sering bertindak tanpa perhitungan,” bisik Marie, matanya sesekali melirik ke arah jendela yang tertutup rapat.“Itulah alasan utama aku segera melarikan diri dari tempat peledakan tadi, sebelum ada satu pun pasang mata yang menyadari keberadaanku,” sahut Salman.Nada suaranya merendah, menyesuaikan diri dengan atmosfer siaga di dalam rumah beton tersebut.“Kamu persis seperti mendiang suamiku, penuh kalkulasi perhitungan yang matang dan menolak untuk lengah. Tapi di kota terkutuk ini, secermat apa pun kamu bergerak, jaring mata-mata zionis selalu bisa mengendusmu. Suamiku dikhianati, lalu markas mereka diratakan oleh bom jet tempur.”Sesaat Marie berhenti bicara, seolah teringat dengan mendiang suaminya yang tewas satu tahun yang lalu.“Eh, omong-omong, berapa usiamu? Suamiku gugur di usia dua puluh
Last Updated : 2026-06-12 Read more