Begitu kata-kata itu selesai, Xavian mengernyit, lalu mencibir. "Ray, kamu sudah mabuk sebelum mulai minum?""Kapan aku bilang mau adu minum sama kamu? Kamu belum punya hak buat nyuruh aku minum.""Anggur putih sebanyak 1,75 liter ini cuma syarat supaya kamu boleh masuk, paham?"Mendengar itu, aku menggeleng dengan jijik. "Ternyata kamu nggak berani? Kalau begitu, siapa pecundangnya, nggak usah dijelasin lagi.""Ray, aku sudah bilang, kamu nggak punya hak buat tawar-menawar denganku." Xavian bukannya marah, malah tersenyum tipis. "Sepertinya kamu lupa sesuatu. Biar kubantu ingatkan. Adrian ...."Begitu dia memberi perintah, Adrian yang bertangan dan berkaki panjang langsung memelesat ke arahku seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Serangannya ganas, seolah-olah ingin langsung melumpuhkan salah satu lenganku."Bella!" Menghadapi Adrian, sang juara provinsi, bohong kalau aku bilang tidak gugup. Kini, Bella adalah satu-satunya andalanku."Aku di sini." Bella yang berada di sampi
Read more