Rumah sakit itu berdiri kokoh di tengah kawasan Kota besar, bukan tempat langganan keluarga Maheswara, bukan pula yang biasa Arga datangi untuk urusan pribadi. Ia sengaja memilih tempat itu—tanpa nama besar, tanpa koneksi. Hanya agar tidak ada satu pun tangan yang bisa ikut campur.Lorongnya panjang, bercat putih pucat. Bau antiseptik menguar, menusuk hidung. Shanaya berjalan di depan, langkahnya pelan tapi tegak. Wajahnya ditutupi masker, meski matanya menunjukkan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Arga di belakangnya, sementara Nayara berjalan di sisi lain, berjarak beberapa langkah—cukup dekat untuk menyaksikan, tapi cukup jauh untuk menjaga diri.Mereka tidak banyak bicara sejak tadi. Suasana di antara ketiganya seperti medan perang yang sunyi, setiap tarikan napas terasa berat.“Silakan, Ibu Shanaya,” sapa perawat dengan senyum tipis, “dokter sudah siap.”Shanaya menoleh sekilas ke arah Arga, lalu ke Nayara. “Kalian mau ikut masuk?” suaranya datar tapi tajam.Arga menggeleng p
Read more