Di luar, hujan tipis mulai menetes. Jaket tipisnya tidak cukup menahan dingin, tapi ia berjalan tanpa menoleh lagi. Perasaan ditolak, dibuang, dan tidak dicintai menyelimuti setiap langkahnya. Air mata jatuh, membasahi pipinya, tapi ia menahannya agar tidak terdengar. Bayi kecil dalam perutnya menendang perlahan, seolah merasakan ketakutan ibunya.Shanaya menghela napas panjang, menatap ke langit yang mendung. “Maaf, Sayang … mama akan melindungimu, walau mama sendiri tak lagi punya tempat di sini.”Langkahnya menuju apartemen sendiri terasa lebih berat dari sebelumnya. Perasaan hancur dan kesepian bergulat di hatinya, tapi di tengah kegelapan itu, ada tekad kecil yang mulai tumbuh. Ia harus bertahan, demi hidupnya dan bayi yang tak bersalah itu.Setibanya di apartemen, ia menutup pintu rapat, duduk di lantai, memeluk perutnya. Hujan menetes di jendela, suara petir kecil terdengar di kejauhan. “Kita akan baik-baik saja, Sayang,” bisiknya lirih. “Mama akan menjaga kita … walau dunia me
Read more