“Dharma,” katanya pelan, “kadang, menangis itu bukan berarti kita menyerah. Bunda cuma capek, bukan marah sama Ayah. Kalian nggak usah takut, ya.”Dharma menatap punggung ibunya lewat kaca depan. “Kalau Bunda sama Ayah pisah, aku sama Shaila ikut Bunda, ya?”Pertanyaan itu datang seperti petir di siang bolong. Nayara meremas setir kuat-kuat. Matanya panas.“Kenapa kamu ngomong kayak gitu, Nak?” suaranya hampir bergetar.“Karena Bunda lebih sering di rumah,” jawab Dharma polos. “Ayah kan sering pergi, sering telat pulang. Aku sama Shaila lebih nyaman sama Bunda.”Shaila mengangguk kecil, matanya mulai berkaca. “Aku nggak mau rumahnya jadi dua, Bun. Aku mau rumahnya satu aja.”Nayara menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris pecah. Ia tahu percakapan ini cepat atau lambat akan datang, tapi tidak pernah membayangkan akan sedini ini.Ia menepikan mobil di pinggir jalan, menoleh ke kursi belakang.“Dengar ya, Sayang …,” katanya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Bunda sama Ayah masi
Última actualización : 2026-02-22 Leer más