Langkah Nayara terdengar terburu-buru ketika memasuki kamar. Matanya masih sembab, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Ia langsung menarik koper besar dari bawah ranjang, membukanya dengan kasar, lalu mulai merapikan pakaian ke dalamnya. Tangan Nayara bergetar setiap kali melipat baju, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang menumpuk.Di pintu kamar, Shaila berdiri sambil menggenggam boneka kesayangannya. “Bunda, kenapa koper dibuka? Kita mau ke mana?” tanyanya polos.Nayara berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu menoleh dengan senyum dipaksakan. “Kita liburan ke rumah Nenek Jingga, Sayang. Di desa, suasananya sejuk. Shaila pasti suka.”Dharma yang sudah beranjak besar dan paham situasi masuk ke kamar, wajahnya bingung. “Tapi, Bunda … mendadak banget. Ayah tahu nggak soal ini?”Tatapan Nayara menajam, meski suaranya berusaha tetap tenang. “Nggak usah tanya soal Ayah. Kamu bantu Bunda masukkan pakaian, ya. Kita berangkat malam ini juga.”Shaila bersorak kecil, seolah tak meny
Última actualización : 2026-02-18 Leer más