Namun, di sisi lain, Mahesa juga tak suka ditekan. Baginya, Shanaya harus tetap ada di bawah kendalinya—bukan sebaliknya. Ia tak terbiasa diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Dalam pikirannya, semua yang terjadi hanyalah “kecelakaan,” bukan tanggung jawab yang perlu ia pikul seumur hidup.Ia berbalik, menatap Shanaya dengan sorot mata dingin yang bahkan tak lagi menyisakan sedikit pun rasa bersalah. Napasnya terdengar berat, bukan karena emosi, tapi karena ia muak.“Baiklah,” katanya datar. “Aku akan kasih kamu uang. Tapi jangan pernah bikin ribut. Aku yang atur semuanya. Kamu tinggal diam, jalani saja.”Shanaya menatapnya, wajahnya sembab, bibirnya gemetar menahan amarah. “Aku nggak butuh kamu atur hidupku, Mahesa,” katanya parau. “Aku butuh kamu tanggung jawab. Anak ini butuh ayah.”Mahesa mendengus pelan, ekspresinya seperti mengejek. “Ayah?” Ia terkekeh getir. “Jangan mulai drama itu. Kamu yang jebak aku, Shanaya. Kamu tahu aku punya istri. Tapi kamu malah terus ngikutin aku,
続きを読む