Rumah keluarga Ramlan tidak pernah benar-benar hangat.Bukan karena dingin, melainkan karena setiap sudutnya selalu dipenuhi perhitungan.Siang itu, matahari tepat di atas kepala. Cahaya jatuh lurus ke ruang tamu yang terlalu rapi, seolah kebersihan bisa menutupi kebusukan niat di dalamnya.Arman Ramlan duduk di sofa utama dengan jas masih melekat di tubuhnya, meski tidak ke mana-mana. Ratna berdiri di dekat jendela, tangan terlipat, wajahnya tegang. Olivia duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memainkan ponsel, seolah nasib perusahaan keluarga ini bukan urusannya.Keheningan pecah lebih dulu oleh suara Arman.“Aku tidak terkejut,” katanya datar. “Sejak awal aku sudah tahu, menikahkan Zenia ke keluarga Alberto tidak akan memberi kita apa-apa.”Ratna menoleh, nada suaranya dingin. “Dia selalu begitu. Tidak pernah benar-benar berguna.”Olivia tersenyum tipis. “Sejak kecil juga, Ayah. Terlalu sibuk merasa jadi korban sampai lupa berpikir logis.”Arman mengangguk pelan. “Menantu keluarga
Zuletzt aktualisiert : 2025-12-30 Mehr lesen