“Kau jangan berani-berani menyentuhku!”Suara Kenzo menggema di kamar dengan nada setengah panik, setengah marah. Jarang sekali Isabela melihat ekspresi seperti itu di wajahnya. Selama ia mengenal Kenzo Alberto—sewaktu ia hidup dulu—pria itu selalu terkendali, dingin, dan nyaris tak tergoyahkan. Namun pagi ini, dengan rambut masih berantakan dan lingkaran hitam yang mencolok, Kenzo terlihat… manusiawi. Ya, seperti manusia pada umumnya.Dan itu lucu.Aku pikir dia tidak punya emosi, gumam Isabela dalam hati.Isabela tersenyum lebar, terlalu lebar untuk disebut sopan. “Tenang saja, Tuan Muda,” katanya ringan. “Aku tidak tertarik memperkosa suami sendiri. Itu… terlalu melelahkan,” cicitnya, lalu menoleh ke arah lain sambil menahan tawa.“Kau—!” Kenzo menunjuknya lagi, kali ini jarinya bergetar sedikit. “Jangan bermain-main denganku!”Isabela mengangkat kedua tangannya, mundur satu langkah, masih dengan senyum usil. “Baik, baik. Aku hanya bercanda.”Setengahnya, sambungnya dalam hati.Bebe
Last Updated : 2025-12-25 Read more