"Dingin ...." Kirania meracau, bibir pucatnya gemetar, tapi matanya terpejam rapat. Ia menarik selimutnya lebih erat, tapi hawa dingin tetap menusuk sampai ke tulang. "Kita ke rumah sakit, ya?" bujuk Arsenio, mengusap pipi Kirania yang merona karena suhu tubuh yang tinggi. Kirania menggeleng lemah, matanya masih terpejam—meringkuk kedinginan di atas ranjang. Meskipun terus mengeluh kedinginan, suhu tubuh gadis itu justru menunjukkan hal sebaliknya—kulit tubuhnya panas membara. Arsenio sudah mengompres Kirania berulang kali, tapi suhu tubuh gadis itu yang tak kunjung turun, membuatnya khawatir. Kirania benar-benar demam tinggi, tapi terus saja menolak dibawa ke rumah sakit. "Om ...." panggil Kirania, membuka matanya susah payah, menatap Arsenio dengan mata berkaca-kaca. "Saya di sini. Kamu butuh apa, hm? Apa yang sakit?" Arsenio menyahut lembut, mengusap sudut mata Kirania yang mulai berair. "Matiin AC nya, dingin banget," lirihnya dengan suara lemah, nyaris tidak t
Read more