Setelah aku mengeluarkan cairanku di dalam mulut pacarku, ia kembali tertidur pulas. Aku pun keluar dari kamar, dan langsung melihat Sarah yang sudah menyiapkan sarapan dan menunggu.Sarah tersenyum dengan mata yang melengkung manis, seraya berkata, “Kakak ipar, sarapannya sudah siap.”Ia menatapku, senyumnya terlihat begitu tenang, seolah semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi belaka. Pandangan mataku jatuh pada wajahnya yang manis, lalu perlahan turun ke tulang selangkanya yang halus, bentuk dadanya yang menonjol, serta pinggangnya yang ramping. Tatapanku seolah bisa menembus pakaian tipis yang ia kenakan. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat dan ingin melihatnya lagi memakai piyama yang ia kenakan semalam.Sikapnya yang begitu tenang membuatku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan saat ini. Akhirnya aku hanya mengangguk pelan dan menyelesaikan sarapan tanpa banyak bicara.“Kakakmu bilang, kamu ingin ikut denganku ke kantor.”Mungkin karena nada suaraku terdengar din
Read more