LOGINSudah cukup lama aku dan pacarku tinggal bersama. Suatu sore, adik pacarku tiba-tiba mengetuk pintu rumahku dan mengatakan ingin tinggal sementara bersama kami. Adik pacarku ini meski lebih muda belasan tahun dari pacarku, namun tubuhnya sudah sangat sintal, wajahnya cantik, matanya yang bening membuatnya tampak seperti seekor kelinci kecil yang polos dan belum mengenal dunia. Saat ia menatapku, bibir mungilnya sedikit terbuka, kemudian dia memanggil dengan pelan, nyaris seperti bisikan, “Kakak ipar…” Entah mengapa, sebuah perasaan asing merambat dari hatiku ke perut bagian bawahku, membuat napasku terasa lebih berat. Malam itu aku dan pacarku terus melakukan hubungan intim, kali ini terasa lebih panas dari biasanya. Namun di tengah keasyikan itu, aku sekilas menoleh ke arah pintu. Di sana berdiri adik pacarku, dia melihat kami berdua dengan pipi merah dan napas yang tidak teratur. Tangannya berada di antara kedua kakinya, terus bergerak di area itu…
View MoreArianna's POV
I woke up to the scent of freshly baked cupcakes wafting through the air. I snapped my eyes open and flexed my arms, feeling a mix of excitement and dread. Today was my 17th birthday.
I ran a hand through my hair as I sluggishly rose to my feet and dragged my legs towards the bathroom for a quick shower.
As I got dressed, my mind wandered back to the conversation I had with my father five years ago, He had taken me to the old oak tree in the woods, his eyes serious and somber.
"Arianna, you are growing up, and it is high time you knew the truth about your fate," he had said, his voice low and gravelly. "When you turn 18, you will be required to fulfill an ancient prophecy. You will be the key to unlocking the werewolf king's true power."
I remembered feeling like I had been punched in the gut. A sacrifice? Me? I had found it extremely hard to believe that my life would end when I turned 18th. From that day on, I slowly reminded myself each day that my days had been numbered.
I learned to cherish every second, minute or hour that passed by.
My father's words had been etched in my mind like a curse. I couldn not shake the feeling that my life was predetermined, that I was nothing more than a pawn in a game I did not understand.
As I made my way downstairs, my brother Darius greeted me with a small smile and a tray of cupcakes. "Happy birthday, kiddo. I made your favorite flavor, chocolate."
I forced a smile, feeling like I was living a lie. How could I celebrate my birthday when my fate was already sealed?
"Thanks I guess." I said, in a bored tone. "It looks amazing, hopefully it tastes just as it looks." I teased him.
As we sang "Happy Birthday" and I blew out the candles, I noticed my father was no where around so I had to ask Darius. "What about dad?" I questioned.
Darius cleared his throat and answered "He was summoned by to the royal palace since morning. He has not been home since then." Darius said.
I sighed heavily. My thoughts went back to my fate. I felt a shiver down my spine. I had a year left before my 18th birthday.
Darius seemed to have noticed the sadness I was feeling. He rushed towards my direction and placed his warm hands on my shoulder. "You are going to be okay Arianna, the Moon goddess knows best. Try not to think too deep about things and enjoy your birthday." He said with a reassuring smile.
It was finally time for breakfast, my father, Orion had finally arrived. I had questions to ask him but I chose save them for later.
We gathered around the dining table and my dad spoke with a hand placed on my shoulder. "Happy birthday my dear daughter. I am so proud of you and I am sure mother feels the same way too. I want you to know that we will face whatever comes next together, as a family."
I nodded, trying to muster up a smile, but it felt forced. Had everything already been sealed? Was that why he was summoned to the royal palace this morning? I needed answers.
Darius, sensing my unease, reached out and took my hand. "Ari, it is going to be okay. We will figure something out. You are not alone in this."
I appreciated their efforts, but it was not enough to erase the feeling of dread that had taken up residence in my stomach. I felt like I was living on borrowed time, like every day brought me closer to the inevitable.
As we finished breakfast, my father handed me a small gift box. "I know it is not much, but I wanted to get you something special for your birthday."
I opened the box, revealing a beautiful silver necklace with a small crystal pendant. It was lovely but how long was I going to wear it? Just for another year?
"Thanks, Dad," I said, trying to sound sincere. "It is really pretty."
My father smiled, but I could see the concern etched on his face. He knew I was struggling, and he did not know how to help me.
After breakfast, I headed back to my room. I laid on my bed drowned myself in my own thoughts. I was starting to enjoy the coolness coming from my room's window and the defeaning silence when a sudden bang on the door startled me.
Darius barged into my room with a worried look on his face. He was struggling to catch his breath.
I jerked off my bed at alert and rushed towards Darius with a look of concern plastered on my face. "What is going on Darius?" I asked, my brows furrowed at him in confusion mixed with fear.
Darius wanted to say more but a group of men dressed in armours barged into my room. Their faces looked strong and their eyes were darted toward my direction.
I gulped a lump down my throat and staggered backward in shock. "W-ho..who ar-e th-ey?" I stuttered, my heart raced extremely fast and the hairs on my skin rose.
"We are from the royal palace, here to take you to the king." One of the guards spoke in a harsh tone.
I shook my head in disagreement. I was not eighteen yet, why were they here to take me then?
"Where is father?" I asked.
Darius shook his head. "I have no idea." He turned to the guards and pleaded. "Please do not take my sister until my father returns."
"It is the command of the King that we take her immediately." Without wasting another minute, the guards rushed towards me and grabbed me by the arm like a prisoner.
I cried and struggled to get out of their grip but they were too strong for me.
Tears clouded my eyes as I was slowly pulled away from home. This was my last goodbye to my family. It was time to face my fate.
“Apa yang harus aku katakan? Apa yang ingin kamu dengar? Apa kamu ingin dengar fakta bahwa wanita itu sebenarnya bukan kakakku, tapi dia adalah ibuku?”Apa?!Kalimatnya sangat mengejutkanku, bahkan otakku masih belum bisa sepenuhnya mencerna apa yang sebenarnya terjadi.“Kamu bertanya untuk apa aku melakukan hal ini, kan? Aku melakukan ini untuk balas dendam!” ucap Sarah dengan suara bergetar, meluapkan emosi yang selama ini terpendam.“Wanita itu melahirkanku di usianya yang baru 16 tahun. Tapi, menjadi anaknya seperti neraka bagiku, sejak kecil aku tidak pernah merasakan kebahagiaan.”“Dia… dia malah… Saat aku pulang ke rumah untuk liburan, dia… dia menjual aku kepada seorang bajingan yang lebih pantas disebut binatang, hanya demi uang 40 juta.”Suara Sarah semakin bergetar dan kalimatnya terputus-putus, seolah sedang menggali ingatan yang sangat menyakitkan. Mataku terbelalak mendengar ceritanya, akhirnya aku paham dengan apa yang terjadi. Aku tak sanggup membayangkan penderitaan ya
Hari pernikahanku dengan pacarku semakin dekat, sebentar lagi kami resmi menjadi suami istri. Namun aku justru merasa tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Aku terus mencari kesempatan untuk menjelaskan hal ini pada pacarku. Tapi setiap kali mulutku hendak bicara, selalu ada saja kebetulan yang membuatku menundanya.Pacarku dengan penuh semangat mengurus segala hal untuk acara pernikahan. Sedangkan aku terus membuat alasan untuk menunda, tetapi dia sama sekali tidak keberatan. Di benak pacarku, dia hanya ingin menikah denganku dan menjadi istri orang kaya. Kadang-kadang aku bahkan sempat berpikir, apakah sebaiknya aku mengajaknya putus dan memberinya sejumlah uang kompensasi. Tapi, aku tetap tak sanggup mengatakannya.Aku terus tenggelam dalam rasa ragu, sampai hari ini pun tiba, saat malam sebelum pernikahan.Selama beberapa hari, aku berdalih sibuk dengan urusan perusahaan dan sengaja tidak pulang ke rumah. Meski begitu, yang kurindukan malah si gadis penggoda itu. Pada akhirnya,
Entah apakah ada perkataanku yang salah ucapkan, aku bisa dengan jelas merasakan Sarah menjadi semakin bersemangat. Bagian dalamnya terasa jauh lebih rapat, sampai-sampai seperti mencengkeram milikku.Aku tak kuasa menahan diri dan satu erangan lepas dari mulutku seiring dengan pergerakanku yang semakin cepat. Sarah menggigit bibir bawahnya erat-erat. Dia sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun.Rangsangan dan kenikmatan yang aneh itu justru semakin menghantam otak dan sarafku. Pada saat itu, aku bahkan ingin terus seperti ini, selamanya tidak terpisah.“Niko?” Dari luar pintu terdengar suara pacarku yang sedikit bingung.“Iya, masih ada pekerjaan yang belum selesai. Kamu tidur dulu saja.”Mendengar jawabanku, nada suara pacarku agak kecewa. “Baiklah, aku sebenarnya baru beli lingerie hari ini, aku ingin memakainya di hadapanmu.”Entah terpikir apa, nada suaranya tiba-tiba terdengar lebih ceria. “Nanti setelah kamu selesai kerja, aku pakai untukmu. Kamu pasti s
Pacarku sama sekali tidak tahu kode misterius apa yang sedang kami mainkan. Dia hanya menepuk ringan tanganku, kemudian menegurku, “Memangnya kamu menganggap adikku ini asisten suruhanmu?”Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, namun pandanganku lurus tertuju pada Sarah. Mungkin karena merasa bersalah ditatap seperti itu, Sarah menunduk dan fokus menyantap makanan di depannya, tidak lagi menatapku sedikit pun.Aku merasa agak bosan dan baru hendak mulai makan, ketika tiba-tiba terasa ada sesuatu yang menggesek kakiku. Aku langsung melirik ke arah Sarah yang duduk di seberang. Namun dia tetap fokus makan, tampak sama sekali tidak terusik. Meski begitu, aku jelas merasakan sepasang kaki kecil yang lembut terus menggesek betisku, bahkan perlahan naik hingga ke pahaku.Gadis sialan ini benar-benar tidak tahu malu, padahal kakaknya ada di samping!Pacarku sama sekali tidak menyadari gejolak tersembunyi di bawah meja. Dia tersenyum sambil menceritakan berbagai kejadian hari ini. Aku hanya me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.