Sebulan lamanya didiamkan oleh Saka, dan di sisi lain terus didekati oleh Gio, akhirnya Karin membulatkan suaranya. "Aku suka Gio. Dia nggak lembek, bisa diandalkan, dan kami juga punya hobi yang sama, suka buku," batin Karin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri yang entah kenapa terasa kian hambar setiap harinya. Pagi itu di koridor kampus, langkah kaki Karin dan Saka saling bertentangan dari arah berlawanan. Jarak mereka mengikis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Saka menghentikan langkahnya tepat di depan Karin. Cowok itu merogoh tasnya, lalu menyerahkan selembar undangan elegan berwarna hitam-emas. "Kalau lo nggak sibuk, lo bisa datang, kan? Walau bagaimanapun, kita tetap teman," ucap Saka. Nada suaranya terlampau tenang, tidak ada lagi getaran gugup seperti dulu. Karin menerima undangan itu. Undangan ulang tahun Saka. Di bawah kacamata besarnya, Karin menatap tulisan nama Saka di undangan tersebut, dan tanpa sadar, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam
Ler mais