Maya menatap sosok pria yang melangkah mendekat. Pria itu masih sama, dengan gaya yang sedikit pesolek,Boy."Kamu bakal kuat kan, sama seperti yang sudah-sudah?" ucap Boy lembut. Matanya menatap Maya, cinta pertamanya yang kini terlihat begitu rapuh.Maya hanya diam, mengusap air matanya dengan tisu yang sudah basah. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Kehadiran Boy di saat suaminya baru saja dikebumikan terasa seperti dejavu. "Kamu bakal kuat, karena aku tahu itu kamu, May," sambung Boy lagi.Boy melangkah mendekati makam Abil. Ia menatap nisan itu dengan pandangan yang sulit diartikan."Ya ampun, Bil... dulu kamu mati-matian merebut Maya dari aku, sekarang malah meninggalkannya sendirian begini. Aduh, jatuh kan nih air mata" bisik Boy seraya menyeka sudut matanya.Tidak ada dendam. Boy sudah membuktikan segalanya. Saat keluarga Maya dulu menganggapnya sebagai "penyakit", ia buktikan ia bisa menjadi desainer ternama. Saat keluarga Abil merendahkannya, ia buktikan ia bisa memilik
اقرأ المزيد