"Ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak mau satu kampus dengan Saka?" tanya Elian. "Papa dengar jurusannya cukup bagus di sana."Lana menggeleng cepat, nyaris tersedak air putihnya. "Nggak, Pa! Ampun deh. Di sana saingannya gila-gilaan. Isinya anak pejabat semua, koneksinya ngeri. Lana mau cari suasana yang lebih... manusiawi.""Kamu kan juga pintar, Sayang," Elian berusaha memulihkan kepercayaan diri putrinya. Bagaimana tidak, SMA tempat Lana lulus adalah sekolah favorit di mana ia masuk murni karena kemampuan otaknya, meski semua orang tahu itu adalah sekolah milik mendiang kakeknya sendiri."Ah, aku mau yang sedikit lebih tenang, Pa. Nggak mau jadi pusat perhatian cuma gara-gara marga Baskara," keluh Lana manja.Tepat saat itu, ponsel Lana bergetar di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan nama yang baru saja mereka bicarakan."Pa, Kak Saka telpon!" ujar Lana antusias. Ia segera menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara."Halo, Kak! Tumben banget nih nelpon jam
Read more