Desa itu bernama Banyu Ireng.Nama yang ironis, karena airnya jernih dan tanahnya subur. Desa itu terkenal keras kepala—bukan karena kasar, tetapi karena terbiasa bertahan tanpa bantuan luar. Konflik ada, pertengkaran sering, namun tidak pernah ada satu suara yang cukup kuat untuk menundukkan yang lain.Dan itulah sebabnya Jaka memilihnya.Ia tiba dua jam sebelum rapat dimulai. Balai desa sudah penuh. Tidak rapi. Tidak bersih. Kursi-kursi berantakan. Orang-orang duduk berkelompok kecil, saling menatap dengan curiga.Tidak ada papan daftar.Tidak ada ruang kosong di tengah.Bagus.“Kami dengar kabar dari desa lain,” kata kepala desa Banyu Ireng tanpa basa-basi. “Kami tidak akan melakukan itu.”“Maksud Bapak?” tanya Jaka.“Kami tidak akan memilih satu orang,” jawabnya tegas. “Kalau ia datang, biarlah datang. Tapi jangan minta kami menyerahkan siapa pun.”Beberapa warga mengangguk setuju.Beberapa lainnya tampak ragu.Namun tidak ada yang berdiri membantah.Rapat dimulai.Dan sejak awal,
Última atualização : 2026-01-06 Ler mais