Penolakan tidak datang dalam bentuk amarah.Ia datang sebagai ketenangan yang terlalu rapi.Pagi itu desa bangun tanpa suara ayam, tanpa derit pintu, tanpa sapaan tetangga. Rangga berdiri di teras rumah tua peninggalan orang tuanya, memandang jalan desa yang lengang. Matahari terbit sempurna, sinarnya jatuh lembut di atap-atap rumah, namun tidak satu pun jendela terbuka.“Kau merasakannya?” tanya Jaka, muncul dengan dua cangkir kopi.“Desa ini menahan napas,” jawab Rangga.Mereka duduk berdampingan. Kopi terasa pahit, lebih pahit dari biasanya. Rangga menatap halaman—tanahnya tampak rata, terlalu rata, seperti baru saja dirapikan. Bekas langkah semalam lenyap, seolah tak pernah ada tenda, meja, atau orang-orang.“Kepala desa baru memanggil rapat,” kata Jaka. “Di balai. Siang ini.”“Rapat untuk apa?”“Untuk menentukan siapa yang salah.”Rangga mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan datang.”Balai desa penuh, tapi sunyi. Kursi-kursi terisi rapi. Orang-orang duduk tegak, tangan bertau
Last Updated : 2025-12-24 Read more