SUV hitam itu melaju semakin jauh dari pusat Bellavista City. Gedung-gedung tinggi telah berganti dengan perkebunan, jalan berkelok, dan deretan pepohonan yang menutupi cahaya matahari.Rayhan Halim duduk di kursi belakang sambil berpura-pura menikmati pemandangan. Di sebelahnya, Rendra sibuk memainkan ponsel, sesekali tersenyum puas setelah membaca pesan yang masuk.Sementara itu, Darto terus mengemudi tanpa banyak bicara.“Rendra,” ujar Rayhan tiba-tiba, “kita masih jauh dari Forbidden Village?”“Kenapa? Kau ingin pulang?”“Bukan. Aku hanya ingin tahu apakah kita sempat makan siang. Perutku mulai berisik.”Rendra mendengus. “Pikiranmu hanya makanan! Tidak heran kau tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yang berarti.”Rayhan mengusap perutnya sambil tersenyum santai.“Setidaknya perutku jujur. Kalau lapar, dia langsung memberi tahu. Tidak seperti manusia yang tersenyum di depan, tetapi menyimpan pisau di belakang.”Senyum Rendra langsung menghilang. “Apa maksudmu?”“Tidak ada. Aku s
Last Updated : 2026-10-13 Read more