Suara letusan senjata api terus memekakkan telinga, beradu dengan gemuruh hujan deras yang menghantam atap seng pabrik tua. Bau mesiu menyengat tajam, bercampur dengan aroma darah yang mulai memenuhi udara. Di tengah medan pembantaian itu, Antonio tetap berdiri kokoh bagaikan benteng yang tak tertembus, mendekap erat tubuh Aleta dalam pelukannya.Hans dan tim intinya bergerak presisi, melumpuhkan sisa-sisa anak buah Marco satu per satu. Namun, Marco yang menyadari posisinya makin terdesak mendadak merangsek maju. Dengki dan dendam melenyapkan akal sehatnya. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat senapan laras pendek dari balik jasnya, mengarahkannya tepat ke punggung Antonio yang sedang melindungi Aleta."Matilah kamu, Antonio!" jerit Marco histeris.Aleta yang wajahnya terbenam di dada Antonio sempat melihat siluet Marco dari celah ketiak pria itu. "Antonio, awas!" jerit Aleta ketakutan.Secara refleks, Antonio memutar tubuhnya demi memastikan Aleta tetap berada dalam posisi aman di ba
Read more