Perjalanan kembali menuju kota di mana Antonio tinggal, dihiasi oleh sapuan jingga kemerahan dari langit sore yang perlahan meredup. Di dalam kabin sedan hitam yang hening dan nyaman, Aleta menyandarkan kepalanya di dada bidang Antonio, mendengarkan irama detak jantung pria itu yang teratur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aleta tidak merasa perlu mengkhawatirkan apa yang akan ia makan esok hari, berapa banyak gandum yang harus ia panen di bawah terik matahari, atau amukan Roy yang menuntut uang.Dunia lama yang penuh dengan bau keringat, keputusasaan, dan rasa lapar telah tertinggal jauh di belakang. Kini, roda kendaraan mewah yang mereka tumpangi membawanya meluncur mulus memasuki gerbang besi raksasa kediaman Antonio—sebuah tempat yang dulu ia anggap sebagai sangkar mengerikan, namun kini bertransformasi menjadi tempat pelabuhan baru bagi langkah hidupnya.Malam itu, Aleta berdiri di tengah-tengah ruang rias pribadinya yang amat luas di lantai dua. Di hadapannya, lemari kayu
Read more