LOGIN"Mempunyai istri cantik saja ternyata tidak membawa kebahagiaan jika dia hanya menumpang hidup dan tidak berpenghasilan. Tidak bisa membantu membayar hutang-hutangku, sama saja tidak berguna!" - Roy. Tak lagi memiliki apa-apa untuk dijual dan digadai demi hutang dan biaya rumah sakit, bukan berarti harus menggadaikan istri pada mafia keji tak punya hati. Namun secara sadar hal itu malah dilakukan Roy yang menggadaikan istrinya, Aleta, pada Tuan Antonio sang mafia tanah di kota sebelah. "Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu menyerahkan dirimu sendiri padaku." - Tuan Antonio. Selama tinggal bersama Tuan Antonio, Aleta diperlakukan bak seorang putri yang dilayani banyak pelayan. Sempat terlena dengan semua kemewahan yang disuguhkan, tetapi Aleta masih ingat jika dirinya masih berstatus istri orang. "Seorang mafia yang terkenal keji saja tau bagaimana memperlakukan wanita. Bukan hanya masalah uang, tapi juga sikap. Sedangkan suamiku, harta tidak punya, hati pun mati, sampai istri sendiri dijadikan barang gadai. Haruskan aku menyerahkan diriku untuk dimiliki mafia itu?" - Aleta.
View More"Mana uangnya?"
Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur." "Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidupiku dari waktu aku kecil. Mana uangnya cepat!" Tidak ingin memperpanjang perdebatan. Aleta merogoh dompet di tasnya. Ia keluarkan beberapa lembar uang. "Ini." "Kamu berikan hanya segini? Padahal kamu baru saja gajian hari ini." Roy memaki istrinya sendiri sebab tidak terima dengan pemberian uang dari istrinya itu. "Memang uangnya buat apa? Ini buat kehidupan kita satu bulan ke depan. Belum lagi biaya rumah sakit ibumu. Belum lagi orang-orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang-hutangmu!" "Kalau kamu berikan semua uangnya, besok pasti akan berlipat ganda!" "Judi? Lagi? Setiap aku gajian selalu kamu pertaruhkan uangnya dan mana hasilnya? Berlipat katamu? Yang ada kamu malah membawa hutang-hutang yang baru. Aku mohon, Roy. Lebih baik kamu mencari pekerjaan. Berjudi tidak akan membuat kita kaya. Semua harta sudah habis tidak tersisa, bahkan rumah ini saja kamu gadaikan. Pikirkan juga biaya rumah sakit ibumu yang harus dibayar," tutur Aleta yang sudah ingin menyerah dengan hidupnya yang dari hari ke hari malah semakin buruk. Plak!! Tamparan keras melayang di pipi kiri Aleta sampai membuat ia jatuh tersungkur, hingga darah mengalir disudut bibirnya. Melawan? Tentu tidak! Perlawanan yang dilakukan Aleta hanya akan membuat peperangan terjadi saat itu juga. Barang yang ada di rumah satu persatu habis bukan hanya karena dijual dan digadai, tetapi hancur ketika keduanya berdebat sampai menghancurkan seisi rumah. "Jalang sialan! Kamu hanya perempuan yatim piatu yang beruntung bisa diterima di keluargaku dulu. Jika bukan karena aku yang memperjuangkanmu mendapatkan restu ibuku, mungkin kamu akan menjadi perawan tua yang ditolak semua keluarga karena asal-usulmu yang tidak jelas. Harusnya kamu mati saja di jalanan!" Bruk!! Roy menendang sofa usang satu-satunya sofa yang mereka miliki setelah semuanya dijual habis. Itupun susah payah Aleta bawa dari jalanan karena orang lain membuangnya. Lalu, Roy keluar dari rumah begitu saja dengan membawa uang hasil kerja Aleta. Tidak ada yang bisa Aleta lakukan selain menangis setiap harinya. Meratapi takdir hidup yang tidak pernah memihak. Seolah kebahagiaan enggan berlama-lama dalam hidupnya. Namun Aleta tidak punya pilihan selain terus bertahan, ia tidak punya tujuan jika harus pergi dari rumah suaminya. Esok harinya, pagi sekali Aleta sudah pergi ke rumah tetangga untuk mencuci pakaian, membersihkan rumah, membersihkan kandang ternak atau hal lain yang bisa ia lakukan. Hanya itu yang bisa ia andalkan untuk bertahan hidup selain mengandalkan gajinya bekerja di ladang gandum, karena semua penghasilan itu akan dibawa oleh Roy tanpa tersisa. Sesampainya di ladang gandum, seperti biasa Aleta menyapa para wanita-wanita lain yang juga bekerja di sana. Ia adalah pekerja termuda, sedangkan yang lain mungkin seusia ibu mertuanya. Tak heran para wanita di sana sering bergurau dan meminta Aleta berganti suami daripada menghidupi suami pengangguran dan ibu mertua yang sakit-sakitan. "Roy kasar lagi padamu?" tanya Mirah yang selalu perhatian pada Aleta, ia tahu permasalahan rumah tangga Aleta dengan Roy bahkan tanpa Aleta berbicara, seperti sudah menjadi rahasia umum. Apalagi mereka hidup disebuah pedesaan kecil saja. Aleta hanya tersenyum tipis. Sepertinya dia tidak berhasil menutupi lebam di pipi karena makeup pun sudah bukan prioritas untuk ia beli, bagaikan kemewahan jika ia mementingkan bersolek dibanding isi perut untuk tetap hidup. Ironi yang selalu Aleta bayangkan, ia ingin sekali membeli baju bagus, membeli riasan untuk wajahnya, agar disaat mati pun ia tidak terlihat seperti gelandangan. Macam sumpah serapah Roy yang selalu bilang lebih baik Aleta mati di jalanan seorang diri. Berjam-jam berlalu .... Semua wanita pekerja di ladang gandum beristirahat dan berkumpul untuk makan siang. Aleta membuka tasnya, ia mengeluarkan sepotong roti sisa sarapannya tadi pagi sebelum bekerja di rumah tetangga. "Makanlah ini, kita butuh banyak tenaga. Waktu pulang masih beberapa jam lagi." Mirah memberikan satu kotak bekal yang sudah ia siapkan dari rumah untuk Aleta. "Tidak usah, Mirah. Terimakasih, kamu sudah terlalu sering memberikan aku makan." "Di rumah aku hanya tinggal sendiri. Suamiku sudah tidak ada dan satu-satunya anakku tinggal di ibukota. Jadi, aku malah senang berbagi makanan denganmu yang sudah aku anggap anak sendiri." "Terimakasih, aku berhutang banyak atas seringnya makanan yang selalu kamu berikan." "Bayarlah suatu saat nanti." Aleta tersenyum. "Pasti." "Sudahlah, kalian itu cocok sekali sebagai mertua dan menantu. Mirah, panggil anak laki-lakimu yang kerja di ibukota itu untuk menikahi Aleta," ucap wanita lain yang seolah memberikan usul yang tidak dipikirkan kembali sebelum berucap. "Iya, Aleta. Segera ceraikan suamimu itu, usia kamu masih muda. Apa kamu ingin menghabiskan seluruh hidupmu dengan menjadi petani gandum sampai tua? Dan hidup dalam kesengsaraan, tekanan dan kekerasan dari suamimu. Segeralah sadar!" tambah yang lain. Sudah sering kali hal-hal itu terdengar oleh kuping Aleta. Namun ia tidak pernah menggubrisnya. Lelah jika ia harus menjelaskan kepada semua orang satu persatu tentang bagaimana asal-usulnya dan seberapa bahagia dia dulu saat seseorang mau menikahinya disaat banyak keluarga yang menolak dia. Keinginan sederhana Aleta hanyalah mempunyai keluarga. Hanya saja apa yang terjadi sekarang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Sudahlah kalian, jangan berbicara seperti itu terus. Biarlah Aleta menjalani hidup sesuai apa yang ia inginkan. Memaksa seseorang berhenti disaat orang tersebut masih ingin melanjutkan dan berjuang, tidak ada gunanya. Lebih baik kalian fokus sendiri pada permasalahan keluarga kalian masing-masing." Mirah selalu menjadi garda terdepan untuk Aleta yang tidak pernah bisa membalas berbagai perkataan yang ditujukan orang lain padanya. "Jika aku pergi meninggalkan Roy, aku harus pergi ke mana? Tempat mana yang harus aku tuju? Jika orang tuaku masih hidup, kemana harus aku susul mereka? Jika mereka sudah meninggal, kuburan mana yang harus aku kunjungi?" Saat kalimat itu terucap, seketika semuanya terdiam.Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa tidur di rumah pria asing itu. Yang diingat oleh Aleta hanya disaat ia berusaha untuk kabur dengan memanjat dinding tembok, dia jatuh di rerumputan lalu tidak sadarkan diri."Jaga mulutmu!""Bangunlah! Kamu bukan Nyonya di rumah ini yang bisa tidur sampai siang. Suamimu sudah menjadikanmu sebagai barang jaminan. Cepat bekerja! Bersihkan kolam, bersihkan halaman, pel seluruh lantai bangunan yang ada di sini. Pukul 5 sore ketika saya pulang, semuanya harus sudah beres."Setelah mengatakan itu, Antonio pun keluar.'Tega sekali kamu, Roy. Kamu gadaikan aku untuk uang satu juta dollar, lalu bagaimana jika kamu tidak bisa mengembalikan uang itu. Apa yang akan terjadi padaku? Apa kamu sama sekali ti
Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya. Apalagi sekarang dia seolah sudah menjadi alasan keributan sepagi itu di tempat yang biasanya tenang.Aleta dan Roy pulang ke rumah diiringi tatapan banyak orang, tentunya dengan berbagai opini mereka masing-masing.Karena tidak ingin semua orang berpikiran buruk pada Aleta, juga untuk membersihkan nama anaknya secara pribadi karena tuduhan Roy tadi, Mirah menceritakan semua yang terjadi pada semua orang yang masih berkumpul selepas Roy dan Aleta pergi.Untunglah saja karena hampir semua orang di sana tahu bagaimana tabiat Roy, juga tahu bagaimana sifat Erlan dan Aleta, semua warga percaya pada penjelasan yang dikatakan oleh Mirah."Semoga Aleta bisa berpikir jernih dan pergi dari rumah itu
"Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah ia bisa keluar dari jendela kamar.Aleta bingung, ke mana ia harus kabur. Ke mana ia harus meminta pertolongan? Rumah-rumah di desa kecil itu tidak banyak dan cukup berjarak dari rumah ke rumah.Satu-satunya yang terpikirkan oleh Aleta adalah rumah Mirah. Ia akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu sambil mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Apakah teman suaminya itu memang sengaja mengambil kesempatan disaat Roy tengah keluar. Atau memang Roy yang sudah menjualnya apalagi dengan apa yang sudah ia dengar dari pria itu bahwa ia membayar mahal pada Roy.Disaat hendak mengetuk pintu, seseorang dari belakang memegang bahunya. Sontak Aleta terkejut langsung menoleh."Kamu siapa?" Deng
Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi sekejap terpaku saat melihat bulan yang bersinar indah di gelapnya langit malam."Lalu bagaimana denganku? Kapan aku bisa tersenyum karena bahagia? Sepertinya lima tahun yang lalu saat aku mengenakan baju pengantin. Senyuman paling bahagia sekali rasanya. Tapi sekarang, aku lupa bagaimana caranya tersenyum, aku lupa rasanya bahagia. Akankah Roy kembali seperti dulu lagi?"Aleta menghela nafas panjang dan menutup jendela rumah. Meski tidak ada barang berharga di rumah, tentu menutup pintu dan menguncinya adalah suatu keharusan. Bukan orang lain yang Aleta takuti, melainkan suaminya sendiri.Beberapa bulan belakangan ini, Aleta memang menghindari kontak fisik dengan Roy. Semenjak ia mulai beker
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.