Dalam Genggaman sang Mafia Dingin

Dalam Genggaman sang Mafia Dingin

last updateLast Updated : 2025-12-24
By:  Pritca Ruby Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Mempunyai istri cantik saja ternyata tidak membawa kebahagiaan jika dia hanya menumpang hidup dan tidak berpenghasilan. Tidak bisa membantu membayar hutang-hutangku, sama saja tidak berguna!" - Roy. Tak lagi memiliki apa-apa untuk dijual dan digadai demi hutang dan biaya rumah sakit, bukan berarti harus menggadaikan istri pada mafia keji tak punya hati. Namun secara sadar hal itu malah dilakukan Roy yang menggadaikan istrinya, Aleta, pada Tuan Antonio sang mafia tanah di kota sebelah. "Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu menyerahkan dirimu sendiri padaku." - Tuan Antonio. Selama tinggal bersama Tuan Antonio, Aleta diperlakukan bak seorang putri yang dilayani banyak pelayan. Sempat terlena dengan semua kemewahan yang disuguhkan, tetapi Aleta masih ingat jika dirinya masih berstatus istri orang. "Seorang mafia yang terkenal keji saja tau bagaimana memperlakukan wanita. Bukan hanya masalah uang, tapi juga sikap. Sedangkan suamiku, harta tidak punya, hati pun mati, sampai istri sendiri dijadikan barang gadai. Haruskan aku menyerahkan diriku untuk dimiliki mafia itu?" - Aleta.

View More

Chapter 1

BAB 1 Nasib Malang

"Mana uangnya?"

Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur."

"Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidupiku dari waktu aku kecil. Mana uangnya cepat!"

Tidak ingin memperpanjang perdebatan. Aleta merogoh dompet di tasnya. Ia keluarkan beberapa lembar uang. "Ini."

"Kamu berikan hanya segini? Padahal kamu baru saja gajian hari ini." Roy memaki istrinya sendiri sebab tidak terima dengan pemberian uang dari istrinya itu.

"Memang uangnya buat apa? Ini buat kehidupan kita satu bulan ke depan. Belum lagi biaya rumah sakit ibumu. Belum lagi orang-orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang-hutangmu!"

"Kalau kamu berikan semua uangnya, besok pasti akan berlipat ganda!"

"Judi? Lagi? Setiap aku gajian selalu kamu pertaruhkan uangnya dan mana hasilnya? Berlipat katamu? Yang ada kamu malah membawa hutang-hutang yang baru. Aku mohon, Roy. Lebih baik kamu mencari pekerjaan. Berjudi tidak akan membuat kita kaya. Semua harta sudah habis tidak tersisa, bahkan rumah ini saja kamu gadaikan. Pikirkan juga biaya rumah sakit ibumu yang harus dibayar," tutur Aleta yang sudah ingin menyerah dengan hidupnya yang dari hari ke hari malah semakin buruk.

Plak!!

Tamparan keras melayang di pipi kiri Aleta sampai membuat ia jatuh tersungkur, hingga darah mengalir disudut bibirnya.

Melawan? Tentu tidak!

Perlawanan yang dilakukan Aleta hanya akan membuat peperangan terjadi saat itu juga. Barang yang ada di rumah satu persatu habis bukan hanya karena dijual dan digadai, tetapi hancur ketika keduanya berdebat sampai menghancurkan seisi rumah.

"Jalang sialan! Kamu hanya perempuan yatim piatu yang beruntung bisa diterima di keluargaku dulu. Jika bukan karena aku yang memperjuangkanmu mendapatkan restu ibuku, mungkin kamu akan menjadi perawan tua yang ditolak semua keluarga karena asal-usulmu yang tidak jelas. Harusnya kamu mati saja di jalanan!"

Bruk!!

Roy menendang sofa usang satu-satunya sofa yang mereka miliki setelah semuanya dijual habis. Itupun susah payah Aleta bawa dari jalanan karena orang lain membuangnya. Lalu, Roy keluar dari rumah begitu saja dengan membawa uang hasil kerja Aleta.

Tidak ada yang bisa Aleta lakukan selain menangis setiap harinya. Meratapi takdir hidup yang tidak pernah memihak. Seolah kebahagiaan enggan berlama-lama dalam hidupnya.

Namun Aleta tidak punya pilihan selain terus bertahan, ia tidak punya tujuan jika harus pergi dari rumah suaminya.

Esok harinya, pagi sekali Aleta sudah pergi ke rumah tetangga untuk mencuci pakaian, membersihkan rumah, membersihkan kandang ternak atau hal lain yang bisa ia lakukan. Hanya itu yang bisa ia andalkan untuk bertahan hidup selain mengandalkan gajinya bekerja di ladang gandum, karena semua penghasilan itu akan dibawa oleh Roy tanpa tersisa.

Sesampainya di ladang gandum, seperti biasa Aleta menyapa para wanita-wanita lain yang juga bekerja di sana. Ia adalah pekerja termuda, sedangkan yang lain mungkin seusia ibu mertuanya. Tak heran para wanita di sana sering bergurau dan meminta Aleta berganti suami daripada menghidupi suami pengangguran dan ibu mertua yang sakit-sakitan.

"Roy kasar lagi padamu?" tanya Mirah yang selalu perhatian pada Aleta, ia tahu permasalahan rumah tangga Aleta dengan Roy bahkan tanpa Aleta berbicara, seperti sudah menjadi rahasia umum. Apalagi mereka hidup disebuah pedesaan kecil saja.

Aleta hanya tersenyum tipis. Sepertinya dia tidak berhasil menutupi lebam di pipi karena makeup pun sudah bukan prioritas untuk ia beli, bagaikan kemewahan jika ia mementingkan bersolek dibanding isi perut untuk tetap hidup.

Ironi yang selalu Aleta bayangkan, ia ingin sekali membeli baju bagus, membeli riasan untuk wajahnya, agar disaat mati pun ia tidak terlihat seperti gelandangan. Macam sumpah serapah Roy yang selalu bilang lebih baik Aleta mati di jalanan seorang diri.

Berjam-jam berlalu ....

Semua wanita pekerja di ladang gandum beristirahat dan berkumpul untuk makan siang.

Aleta membuka tasnya, ia mengeluarkan sepotong roti sisa sarapannya tadi pagi sebelum bekerja di rumah tetangga.

"Makanlah ini, kita butuh banyak tenaga. Waktu pulang masih beberapa jam lagi." Mirah memberikan satu kotak bekal yang sudah ia siapkan dari rumah untuk Aleta.

"Tidak usah, Mirah. Terimakasih, kamu sudah terlalu sering memberikan aku makan."

"Di rumah aku hanya tinggal sendiri. Suamiku sudah tidak ada dan satu-satunya anakku tinggal di ibukota. Jadi, aku malah senang berbagi makanan denganmu yang sudah aku anggap anak sendiri."

"Terimakasih, aku berhutang banyak atas seringnya makanan yang selalu kamu berikan."

"Bayarlah suatu saat nanti."

Aleta tersenyum. "Pasti."

"Sudahlah, kalian itu cocok sekali sebagai mertua dan menantu. Mirah, panggil anak laki-lakimu yang kerja di ibukota itu untuk menikahi Aleta," ucap wanita lain yang seolah memberikan usul yang tidak dipikirkan kembali sebelum berucap.

"Iya, Aleta. Segera ceraikan suamimu itu, usia kamu masih muda. Apa kamu ingin menghabiskan seluruh hidupmu dengan menjadi petani gandum sampai tua? Dan hidup dalam kesengsaraan, tekanan dan kekerasan dari suamimu. Segeralah sadar!" tambah yang lain.

Sudah sering kali hal-hal itu terdengar oleh kuping Aleta. Namun ia tidak pernah menggubrisnya. Lelah jika ia harus menjelaskan kepada semua orang satu persatu tentang bagaimana asal-usulnya dan seberapa bahagia dia dulu saat seseorang mau menikahinya disaat banyak keluarga yang menolak dia. Keinginan sederhana Aleta hanyalah mempunyai keluarga. Hanya saja apa yang terjadi sekarang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Sudahlah kalian, jangan berbicara seperti itu terus. Biarlah Aleta menjalani hidup sesuai apa yang ia inginkan. Memaksa seseorang berhenti disaat orang tersebut masih ingin melanjutkan dan berjuang, tidak ada gunanya. Lebih baik kalian fokus sendiri pada permasalahan keluarga kalian masing-masing." Mirah selalu menjadi garda terdepan untuk Aleta yang tidak pernah bisa membalas berbagai perkataan yang ditujukan orang lain padanya.

"Jika aku pergi meninggalkan Roy, aku harus pergi ke mana? Tempat mana yang harus aku tuju? Jika orang tuaku masih hidup, kemana harus aku susul mereka? Jika mereka sudah meninggal, kuburan mana yang harus aku kunjungi?"

Saat kalimat itu terucap, seketika semuanya terdiam.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status