Di mobil, Anya tertawa kecil. “Kak, kamu hebat banget bikin Rosa kesal.” Nares menyalakan mesin. Senyumnya tipis, dingin. “Kadang kebenaran memang menyakitkan.” Anya meliriknya. Menyipitkan mata. “Jadi… badan Anya bagus ya?” Mobil melaju. “Aku enggak bilang gitu.” “Cih. Alasanmu.” Nares melirik sekilas lalu pandangannya kosong sesaat. Flashback Malam itu sunyi. Anya tertidur pulas, napasnya teratur, wajahnya polos tanpa pertahanan apa pun. Rambutnya sedikit berantakan di bantal. Nares berdiri di sisi ranjang lebih lama dari yang seharusnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri. “Sedikit saja,” gumamnya lirih, entah pada siapa. Ia menunduk perlahan. Leher Anya terlihat di balik rambut yang tersingkap. Kulitnya pucat, hangat. Nares menghela napas pelan, lalu tanpa menyentuh terlalu lama mengecupnya singkat, namun kuat. Seperti orang mencuri napas. Nares tersentak mundur, jantungnya berdentum keras. “Sial,
Last Updated : 2026-01-17 Read more