Dirga berdiri di sisi ranjang, menurunkan stetoskopnya perlahan. Anya masih terbaring dengan infus terpasang, wajahnya pucat namun napasnya sudah lebih teratur. Leon berdiri tak jauh, sementara Nares menatap Dirga dengan sorot tajam menuntut jawaban. “Kondisinya kembali kambuh,” ujar Dirga akhirnya, suaranya serius. “Bukan karena fisik. Secara medis, tubuh Anya membaik. Tapi ini murni dipicu oleh trauma.” Nares mengepalkan tangan. “Kenapa bisa?.” Dirga menarik napas. “Anya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Gangguan stres pascatrauma. Setiap kali otaknya menangkap rangsangan yang mirip dengan kejadian masa lalu wajah, suara, bahkan sekadar ingatan tubuhnya bereaksi seolah kejadian itu terulang.” Leon mengernyit. “Makanya dia tiba-tiba histeris?” “Ya,” jawab Dirga. “Bagi Anya, itu bukan kenangan. Itu ancaman yang terasa nyata.” Nares menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, bagaimana cara mencegahnya?” Dirga menatap Nares lurus. “Kamu harus menemukan
Last Updated : 2026-01-07 Read more